Cerpen Wilson Nadeak
Sepasang Rusa
"SEPULUH tahun kita menanti, apa yang kita rindukan tidak kunjung datang. Tujuh tahun kita mengembara di antara negara tetangga, semua sia-sia.
"SEPULUH tahun kita menanti, apa yang kita rindukan tidak kunjung datang. Tujuh tahun kita mengembara di antara negara tetangga, semua sia-sia. Bagaimana ini, Pak?"
"Sabarlah dulu, Ma. Usaha di pihak kita, tetapi wujud dari seberang sana."
"Aku jemu dengan komentar dokter-dokter itu. Katanya, pada kita berdua tidak ada yang salah. Kadang-kadang aku cemas."
"Cemas apa, Ma?"
"Keluarga kita keluarga yang subur. Mengapa kita tidak?"
"Lalu? Bukankah kita telah berusaha?"
"Justru itu, aku menjadi resah. Kalau-kalau kau meninggalkan aku...."
"Sejauh itu?"
"Hari-hari belakangan ini aku diserbu oleh pikiran seperti itu."
"Kau meragukan cintaku?"
"Dalam mimpi-mimpi itu, keresahan itu selalu datang silih berganti."
"Sudahlah. Tidurlah. Malam sudah larut."
"Aku takut, Pak. Jika mimpi-mimpi buruk semakin berlarut-larut."
"Maksudmu?"
"Aku cemas setiap kali terbangun dari mimpi. Entah kecemasan apa, aku tidak tahu. Mimpi-mimpi buruk itu meninggalkan kesan dalam benakku."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sepasang-rusa_20160625_215919.jpg)