Cerpen Wilson Nadeak
Sepasang Rusa
"SEPULUH tahun kita menanti, apa yang kita rindukan tidak kunjung datang. Tujuh tahun kita mengembara di antara negara tetangga, semua sia-sia.
"Aku ingin sekali pulang kampung. Menjenguk orang tua. Sudah lama kita tidak pulang, bukan?"
"Bulan depan?'
"Kalau bisa, minggu depan."
"Secepat itu?"
"Ya. Barangkali Ibu dan Ayah membuka jalan bagi kita."
"Maksudmu?"
"Dulu waktu kecil aku pernah meminta daging rusa kepada Ayah. Ia pergi berburu, dan berhasil."
**
DERU pesawat menggelegar. Mungkin pilot mengurangi kecepatan. Di bawah tampak pepohonan yang lebat dan sungai yang membelah hutan. Rumah-rumah penduduk berjejer di tepi sungai. Perahu yang bergerak di atas sungai dan yang tertambat di tepi aliran sungai tampak bagai panorama, seperti dulu juga.
Kepak sayap pesawat tampak bergerak ketika terdengar roda pesawat tampaknya sedang diturunkan. Pesawat kemudian meluncur di landasan.
"Kita mencari kendaraan antarkota, Ma."
Dan minibus mengantar mereka ke kota pedalaman.
Empat jam kemudian mereka tiba di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh hutan, pepohonan yang tinggi, seperti dulu. Pohon duren di sana-sini. Mereka mendapati rumah orang tua, masih seperti dulu. Anak-anak berkeliaran di halaman, anjing berlarian dari jalan ke kolong panggung.
Ayah dan Ibu menyambut mereka dengan pelukan yang dalam.
"Apa kabar kalian, Nak," kata Ibu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sepasang-rusa_20160625_215919.jpg)