Cerpen Sungging Raga

Konsultasi Kematian

"AYAH, setelah mati, kita akan tinggal di mana?" Begitu pertanyaan Nalea beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhirnya....

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Konsultasi Kematian 

"Tidak ingat?"

"Benar. Mungkin saat itu kita akan punya kesibukan baru."

"Anda sedang berasumsi?"

"Ya. Sama dengan asumsi Bapak bahwa kita akan merindukan bumi ini."

"Itu bukan sebuah jawaban."

"Asumsi Bapak juga bukan jawaban."

"Lho, Anda menyalahkan saya, Mbak?"

"Saya hanya mengikuti cara berpikir Bapak."

Salem pulang dengan kesal. Ia jadi sering gemetar, melamun, menjerit tengah malam dalam keadaan berkeringat. "Ke mana kita setelah mati? Sedang apa Nalea sekarang? Apa dia sudah makan?"

Tak lupa ia juga berkonsultasi dengan seorang ahli agama.

"Setelah kematian, hanya ada surga dan neraka."

"Apakah kita akan tinggal di salah satu tempat itu?"

"Ya."

"Sampai kapan?"

"Seterusnya."

"Saya tak bisa membayangkan seterusnya. Mengapa kita tidak kembali ke bumi? Apakah bumi belum cukup sebagai tempat penderitaan dan kebahagiaan?"

"Itu di luar pengetahuan kita. Semesta dan seluruhnya adalah misteri."

"Setelah sekian luas semesta. Mengapa kita harus berpindah ke tempat lain dan tinggal untuk waktu yang tak diketahui ujungnya?"

"Sudah saya bilang, itu misteri."

Salem tidak puas, ia kian cemas. Ia memang tidak membahayakan siapa pun, ia tidak memukul atau memecahkan barang-barang, ia hanya suka bersikap aneh setiap kali ingat rasa takutnya tentang keabadian di kehidupan setelah mati. Ia ingin tinggal selamanya di bumi ini.

"Mengapa bumi harus diciptakan kalau cuma dihuni beberapa puluh tahun kemudian ditinggalkan? Aku takut, Alesia, aku takut selamanya berada di alam yang berbeda, sementara kita sudah betah di sini."

Beberapa orang menyarankan kepada Alesia untuk membawa Salem ke rumah sakit jiwa, tapi Alesia menolaknya. Sebab ia yakin Salem tidak gila. Apalagi surat rekomendasi psikiater hanya menyebut dia terkena Apeirophobia dan itu tidak termasuk dalam penyakit kejiwaan yang berbahaya.

Jadi, Salem mulai menanyakan hal itu kepada siapa pun yang ditemuinya. Ia bahkan pernah mendatangi seorang gadis yang hendak bunuh diri dengan melompat dari atap gedung. "Mbak, berapa lama kita hidup setelah kematian? Apakah di kehidupan selanjutnya kita bisa bunuh diri lagi?" Gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk bunuh diri karena memikirkan itu.

Hampir semua orang tidak luput dari pertanyaan Salem. Dari kondektur bus kota, pedagang pecel, orang menyeberang jalan, tukang koran, anak kecil yang tidur di bawah jembatan, perempuan yang baru membuang bayi, petugas pom bensin, bos tempatnya bekerja, semua mendapat pertanyaan Salem.... Sampai tiba-tiba berkatalah seseorang kepadanya, "Mengapa Anda tidak bertanya langsung pada penulis cerita ini?"

Begitulah, di akhir cerita ini, mendadak Salem membalikkan badannya. Dengan tatapan tajam, ia berjalan menghampiri saya.

"Wahai, Tuan Penulis Cerita, di mana kita tinggal setelah kematian, dan sampai kapan kita berada di sana?"

Saya tersenyum, "Maaf, Pak Salem, sebenarnya saya pun memikirkan hal yang sama. Karena itulah saya menulis cerita ini."

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved