Cerpen Sungging Raga

Konsultasi Kematian

"AYAH, setelah mati, kita akan tinggal di mana?" Begitu pertanyaan Nalea beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhirnya....

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Konsultasi Kematian 

"Apa maksudmu?" Alesia bertanya sambil menuangkan bumbu pecel.

"Jika kita harus mati. Untuk apa kita terlahir ke dunia ini? Untuk apa dunia ini ada kalau kita harus meninggalkannya menuju tempat yang berbeda tanpa bisa kembali?"

"Di sini kita hanya singgah. Kita akan menuju kehidupan yang abadi."

"Abadi? Itu menakutkan. Bukankah sesuatu yang tidak bisa berakhir dan tidak berujung itu sangat mengerikan?"

"Entahlah, aku pusing. Aku khawatir kau perlu seorang psikolog untuk menjelaskan semuanya."

Maka Salem menemui psikolog, meski ia tidak yakin. Bagi Salem, mereka hanya orang-orang yang kebetulan harus belajar psikologi karena memang memilih kuliah di jurusan itu. Namun Salem tetap pergi, apalagi para tetangga menganggapnya mulai hilang ingatan karena terlalu sedih atas kematian anak gadisnya.

Di ruang konsultasi, Salem seperti menemukan sedikit titik terang.

"Ini adalah tanda-tanda Apeirophobia," kata seorang psikolog yang tampak senior.

"Apa itu?"

"Rasa takut ketika Anda membayangkan keabadian setelah kematian. Ini melebihi Thanatophobia, yaitu rasa takut akan proses kematian itu sendiri."

"Jadi, bagaimana solusinya?"

"Solusinya adalah dengan tidak memikirkannya. Setiap kali Anda hendak memikirkannya, Anda harus cepat memikirkan hal lain."

"Bukankah itu memang menakutkan dan pasti terjadi? Mengapa kita tidak perlu memikirkan hal yang pasti terjadi?"

"Dalam pandangan kita sebagai manusia, ada banyak hal di dunia ini yang hanya bisa disembuhkan dengan cara tidak memikirkannya."

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved