Breaking News:

Cerpen Sungging Raga

Konsultasi Kematian

"AYAH, setelah mati, kita akan tinggal di mana?" Begitu pertanyaan Nalea beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhirnya....

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Konsultasi Kematian 

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu."

Salem menatap istrinya. "Aku sangat takut jika kematian hanyalah jalan menuju kehidupan lain. Kita tidak tahu akan seperti apa dunia di kehidupan itu dan sampai kapan berada di sana."

"Sebaiknya kau menenangkan diri. Kita hanya harus belajar melupakan." Alesia berpaling, matanya basah. Sebagai ibu, ia jelas masih bersedih. Namun esok paginya, di meja makan, Salem masih memikirkan hal yang sama.

"Barangkali, kematian tidaklah benar-benar sebagaimana yang kita lihat."

"Apa maksudmu?" Alesia bertanya sambil menuangkan bumbu pecel.

"Jika kita harus mati. Untuk apa kita terlahir ke dunia ini? Untuk apa dunia ini ada kalau kita harus meninggalkannya menuju tempat yang berbeda tanpa bisa kembali?"

"Di sini kita hanya singgah. Kita akan menuju kehidupan yang abadi."

"Abadi? Itu menakutkan. Bukankah sesuatu yang tidak bisa berakhir dan tidak berujung itu sangat mengerikan?"

"Entahlah, aku pusing. Aku khawatir kau perlu seorang psikolog untuk menjelaskan semuanya."

Maka Salem menemui psikolog, meski ia tidak yakin. Bagi Salem, mereka hanya orang-orang yang kebetulan harus belajar psikologi karena memang memilih kuliah di jurusan itu. Namun Salem tetap pergi, apalagi para tetangga menganggapnya mulai hilang ingatan karena terlalu sedih atas kematian anak gadisnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved