Cerpen Sungging Raga

Konsultasi Kematian

"AYAH, setelah mati, kita akan tinggal di mana?" Begitu pertanyaan Nalea beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhirnya....

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Konsultasi Kematian 

"Kalau begitu, sebenarnya kita sedang menipu diri sendiri."

Salem beranjak pulang. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang menabur jagung untuk ayam-ayam di pekarangan.

"Alesia, mengapa kita seakan tidak cemas dengan keabadian setelah kematian? Padahal bisa saja detik ini aku masih bicara denganmu, tapi dua menit kemudian aku sudah ada di tempat asing yang tak kuketahui, dan tak membawa bekal apa-apa."

Istrinya berhenti menaburkan biji-biji jagung. "Itulah misterinya. Kita hanya harus siap, kapan pun tiba-tiba kita pergi meninggalkan dunia ini."

"Mengapa harus pergi dari dunia ini?"

"Sebab kita tidak bisa seterusnya berada di bumi. Kelak bumi ini akan hancur. Termasuk kita dan ayam-ayam ini, akan musnah."

"Jadi, bumi akan hancur, tapi jutaan tahun kemudian kita hidup dan tinggal di alam yang entah bagaimana bentuknya tanpa bisa kembali lagi kemari?"

"Begitulah."

"Kalau begitu, kita akan punya usia sampai jutaan tahun? Itu menakutkan. Bayangkan kau ditanya, 'umur berapa sekarang?' kau jawab, 'satu juta tiga ratus.' Ah, sudahlah."

Salem merasa kasihan juga pada istrinya yang begitu sabar. Di hari yang berbeda, di ruang konsultasi yang berbeda, Salem melanjutkan perbincangannya dengan psikolog, tapi kali ini di hadapan seorang psikolog cantik.

"Jadi, Mbak, mengapa bumi ini harus hancur? Bisakah kita tinggal di sini saja, di bumi beserta kelebihan dan kekurangannya?"

"Itu sudah takdir."

"Tapi mengapa takdirnya seperti itu? Tidakkah Anda merindukan dunia ini setelah mati? Tidakkah Anda merindukan kemacetan pagi hari, suasana terminal yang penuh asap knalpot, pasar yang becek sehabis hujan? Siapa yang menjamin kalau di alam lain itu kita masih bisa datang ke stasiun, naik kereta api, bekerja di gedung-gedung tinggi, mandi air hangat di pagi hari, beternak ayam, memberi makan kucing peliharaan...."

Psikolog cantik itu tersenyum, "Anda mencerna hal yang terjadi setelah kematian dengan akal. Padahal bisa saja setelah mati, kita tidak ingat bahwa kita pernah lama tinggal di bumi."

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved