Cerpen Sungging Raga

Konsultasi Kematian

"AYAH, setelah mati, kita akan tinggal di mana?" Begitu pertanyaan Nalea beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhirnya....

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Konsultasi Kematian 

"AYAH, setelah mati, kita akan tinggal di mana?" Begitu pertanyaan Nalea beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhirnya....

Salem masih saja melamun setiap kali mengingat ucapan sang anak. Bahkan di hari ketujuh setelah kepergian Nalea, gadis kecil yang tak mampu bertahan hidup karena telah lama divonis gagal ginjal, Salem tetap saja mengingat pertanyaan itu.

Setelah mati, kita akan ke mana?

Tiba-tiba itu menjadi pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.

Salem tak lagi bersedih. Atau memang sudah tidak berguna lagi kesedihan itu. Ia hanya terus berpikir ada di mana Nalea sekarang. Apakah benar, setelah mati, manusia tetap bisa berjalan seperti biasa di dunia ini? Apakah Nalea sudah sembuh dari penyakitnya? Apakah ia akan menjadi hantu sebagaimana yang diyakini orang-orang, memakai kain putih, melompat, mengejutkan siapa pun.... Kalau pun Nalea menjadi hantu, Salem ingin sekali Nalea datang dan memeluknya, kemudian tetap tinggal di rumah ini, membangunkannya di pagi hari, pergi sekolah, bermain ular tangga, menonton kartun kesayangan, tidak perlu kembali ke kuburan.... Lagi pula, mengapa harus ada kematian jika hanya untuk menjadi hantu yang menakutkan?

"Aku memikirkan Nalea. Sedang apa dia sekarang? Siapa yang menemaninya?" tanya Salem kepada Alesia, istrinya.

"Nalea sudah tenang, ditemani para malaikat."

"Apa kau yakin? Bagaimana tempat tinggal Nalea? Tidak bisa kubayangkan ia berada di ruangan yang gelap dan kotor. Apakah ia bisa menonton kartun kesayangannya? Sampai kapan Nalea akan berada di situ?"

"Ia sudah beristirahat. Itu lebih baik baginya..." Alesia hampir menangis.

"Tidak. Aku tidak percaya kematian adalah tempat beristirahat. Terlalu mudah rasanya jika kematian hanya agar beristirahat. Seseorang bisa beristirahat tanpa perlu melewati kematian."

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu."

Salem menatap istrinya. "Aku sangat takut jika kematian hanyalah jalan menuju kehidupan lain. Kita tidak tahu akan seperti apa dunia di kehidupan itu dan sampai kapan berada di sana."

"Sebaiknya kau menenangkan diri. Kita hanya harus belajar melupakan." Alesia berpaling, matanya basah. Sebagai ibu, ia jelas masih bersedih. Namun esok paginya, di meja makan, Salem masih memikirkan hal yang sama.

"Barangkali, kematian tidaklah benar-benar sebagaimana yang kita lihat."

"Apa maksudmu?" Alesia bertanya sambil menuangkan bumbu pecel.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved