Cerpen Yudhi Herwibowo

Kelambu

HARI masih bercahaya, tapi kegelapan seperti telah menelanku dalam kepekatannya. Ruangan ini tiba-tiba terasa begitu sesak.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Kelambu 

Aku mencoba menghindari pandangannya. Sama sekali tak ada niat sedikit pun untuk mempersilakannya masuk.

"Sudah begitu lama," ujarnya pelan, "kami tak mendengar kabar darimu. Selama ini kami tak pernah tahu, apa yang membuatmu pergi begitu saja. Tapi tentu aku bisa menebak. Mungkin membawamu ke rumah sakit jiwa itu adalah sebuah kesalahan...."

"Mau apa kau kemari?" aku memotong dengan nada dingin, tak ingin mengingat masa lalu yang coba diungkitnya.

"Kedatanganku kemari, sekadar memberi kabar, Ibu mulai sakit-sakitan. Berkali-kali ia memintaku untuk mencarimu."

Aku mematung. Sejenak bayangan Ibu hadir padaku. Namun semua tentang kediamannya. Maka aku buru-buru mengenyahkan bayangan itu dari kepalaku.

"Kata dokter, waktunya tak lama lagi. Ini mungkin... saat terakhir buatmu bertemu dengannya."

Ucapan itu seperti terdengar begitu jauh di telingaku.

"Kau akan pulang, kan?"

Aku tak menjawab. Tubuhku tiba-tiba terasa begitu dingin.

"Apakah..." kata-kataku seperti keluar tanpa bisa kukontrol, "kamar Nenek masih di sana?"

Kakakku menatap tak mengerti, "Ya, tentu saja masih di sana."

"Apakah ranjang dengan kelambu putih itu masih ada?"

"Kalau itu, tentu sudah tak ada. Kamar itu sudah lama disewakan. Ranjang dan barang-barang Nenek lainnya sudah dijual bertahun-tahun lalu. Kenapa kau menanyakan itu?"

Aku tak menjawab. Tanpa sadar tanganku meremas ujung bajuku.

"Kau akan pulang, kan?"

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved