Cerpen Yudhi Herwibowo

Kelambu

HARI masih bercahaya, tapi kegelapan seperti telah menelanku dalam kepekatannya. Ruangan ini tiba-tiba terasa begitu sesak.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Kelambu 

Seperti kota yang kutinggali sekarang. Letaknya juga berlawanan dari kota asalku dulu. Aku mencoba menikmatinya. Walau sebenarnya kota ini sama sekali tak menarik. Suamiku sendiri sebenarnya hanya pindah untuk sementara kerena menggantikan kawannya yang resign. Namun saat ia akan dikembalikan ke kota asalnya, aku memintanya bertahan di sini.

"Karena kota ini... jauh dari kotaku," aku menyebutkan alasannya.

Dan ia setuju. Walau aku sebenarnya tak pernah menceritakan secara detail tentang masa laluku, ia selalu mencoba mengerti. Dulu, saat kami berkenalan, aku sudah memintanya untuk tak mendekatiku. Tapi keteguhannnya membuatku akhirnya menerimanya. Saat ia melamarku, aku hanya mengatakan bahwa aku memiliki masa lalu yang begitu kelam, hingga membuatku begitu putus asa dan mencoba bunuh diri berkali-kali.

Namun itu tak mengurungkan niatnya menikahiku. Maka aku menikahinya dalam keheningan. Hanya ada keluarganya dan seorang kenalanku yang datang sebagai saksi.

**

AKU pernah begitu ingin mati!

Kupikir mati adalah jalan baru yang harus kutempuh bila aku mendapati kehidupanku sekarang begitu buruknya. Semacam, kesempatan kedua.

Dan itu, sepertinya, menjadi kenangan paling kuat yang tersisa di masa itu. Aku masih ingat bagaimana aku mulai menaiki pohon tinggi itu dan terjun dari sana. Aku masih ingat bagaimana aku mulai mengiris nadiku dengan pisau dapur yang baru dibeli Ibu. Aku juga masih ingat bagaimana aku menenggak cairan serangga itu dengan tiga kali teguk.

Tapi aku tak pernah mati karena itu semua. Aku hanya sempat patah kaki atau koma dalam beberapa hari saja. Tapi sejak itulah, orang-orang menganggapku gila. Terlebih saat aku mulai kerap berteriak-teriak histeris hanya karena melihat kelambu di kamar Nenek.

Ayah kemudian membawaku ke rumah sakit jiwa. Aku masih ingat saat Ayah akan memasukkanku ke mobil, aku meronta sekuat tenaga. Kugigit tangannya hingga berdarah. Kedua kakakku, yang mencoba memegangi tanganku, juga kucakar berkali-kali, hingga kuku-kukuku patah.

Sungguh, saat itu aku merasa hanya seorang diri di dunia ini. Terlebih saat aku melihat Ibu, hanya memandangiku dari jauh, dengan diam dan ketakutan.

**

BEBERAPA hari yang lalu, secara mengejutkan, kakak pertamaku datang ke rumah.

Saat membuka pintu, aku nyaris melupakannya. Wajahnya sudah tak lagi bisa kuingat. Hanya luka di dahinya yang langsung mengingatkanku padanya. Aku benar-benar terkejut. Tak pernah kubayangkan ia datang menemuiku.

"Aku mendapat alamat dari suamimu," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved