Cerpen Yudhi Herwibowo

Kelambu

HARI masih bercahaya, tapi kegelapan seperti telah menelanku dalam kepekatannya. Ruangan ini tiba-tiba terasa begitu sesak.

Kelambu
Ilustrasi Kelambu 

Saat Ibu membeli penyedot debu, aku langsung membersihkan kamar Nenek. Sejak itulah kuputuskan untuk bermain di situ. Ini untuk menghindari kedua kakakku yang sedang nakal-nakalnya. Mereka kerap mengganggu dengan menendang boneka-bonekaku, atau menyembunyikan mainan lainnya.

Di kamar ini, aku merasa aman. Kedua kakakku tak suka berada di sini.

Sampai suatu kali, Ayah datang ke kamar ini. Ia sebenarnya jarang pulang karena bekerja di luar kota. Tapi hari itu sepertinya ia baru pulang dari sebuah pesta. Ada aroma menyengat yang sangat kubenci. Awalnya aku hanya mengacuhkannya. Namun saat ia duduk di tepi ranjang, ia menyuruhku mendekat. Katanya, ia akan menceritakan sebuah dongeng. Tapi saat ia mulai melepaskan seluruh ikatan kelambu, aku tiba-tiba seperti terperangkap di dalamnya!

**

KOTA itu sudah tak ada lagi di hidupku. Aku seperti telah membuatnya hilang dari peta. Aku bahkan enggan menyebut namanya. Ketika orang-orang bertanya dari mana asalku, aku akan menyebut sebuah nama kota lain, yang begitu jauh darinya.

Seperti kota yang kutinggali sekarang. Letaknya juga berlawanan dari kota asalku dulu. Aku mencoba menikmatinya. Walau sebenarnya kota ini sama sekali tak menarik. Suamiku sendiri sebenarnya hanya pindah untuk sementara kerena menggantikan kawannya yang resign. Namun saat ia akan dikembalikan ke kota asalnya, aku memintanya bertahan di sini.

"Karena kota ini... jauh dari kotaku," aku menyebutkan alasannya.

Dan ia setuju. Walau aku sebenarnya tak pernah menceritakan secara detail tentang masa laluku, ia selalu mencoba mengerti. Dulu, saat kami berkenalan, aku sudah memintanya untuk tak mendekatiku. Tapi keteguhannnya membuatku akhirnya menerimanya. Saat ia melamarku, aku hanya mengatakan bahwa aku memiliki masa lalu yang begitu kelam, hingga membuatku begitu putus asa dan mencoba bunuh diri berkali-kali.

Namun itu tak mengurungkan niatnya menikahiku. Maka aku menikahinya dalam keheningan. Hanya ada keluarganya dan seorang kenalanku yang datang sebagai saksi.

**

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved