Cerpen Apendi

Healing Ticket

SORE hari, sepulang kerja dari kantor, aku kembali menemukan temanku masih duduk di depan komputernya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Healing Ticket 

Tentu saja bagi orang lain, membaca buku yang bagus adalah healing ticket-nya atau memakan makanan yang enak. Bagi orang yang lebih tua, healing ticket-nya mungkin adalah mendengar tawa anak-anaknya ketika pulang dari kerja, atau melihat senyuman di wajah mereka.

Bagiku....

Aku menghela napas panjang. Untuk kesekian kalinya aku menguatkan diriku untuk mengajukan pertanyaan yang sama meskipun aku sudah tahu jawabannya.

"Hei, mau main satu game sebelum aku pulang?" tanyaku pada temanku. Jiwanya sebagai seorang gamer belum sepenuhnya hilang. Ia sedang memainkan sebuah game ecek-ecek di Facebook.

"Sori, aku gak bisa! Main Dota minimal harus satu jam dan sebentar lagi aku harus membuka kotak."

Apa kau berusia seperempat abad atau lebih?

Bosan tinggal di kota kelahiranmu yang itu-itu aja?

Belum pernah ke luar negeri?

Ingin keliling dunia dan mereguk semua hal yang dapat ditawarkan hidup?

Dulu, kami cukup puas melepas lelah dengan bermain Dota sepulang kerja. Dulu, healing ticket- ku adalah bermain game bersamanya dan membantai musuh-musuh kami. Dulu, kami tim yang tak terkalahkan. Dulu, dunia kami hanyalah Dota, Dota, dan Dota. Dulu, ia bisa berbahagia hanya dengan memenangkan satu game. Tapi, sekarang ia merasa perlu mengelilingi dunia agar bisa bahagia.

Bermain Dota sendirian jadi tidak asyik lagi. Mungkin aku perlu mencoba game yang lain. Atau pulang, dan mencoba menulis lagi. Mungkin sebuah cerpen dengan judul: Healing Ticket.

Ya, itu akan menjadi judul yang bagus, dan siapa tahu dapat terbit.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved