Cerpen Apendi
Healing Ticket
SORE hari, sepulang kerja dari kantor, aku kembali menemukan temanku masih duduk di depan komputernya.
SORE hari, sepulang kerja dari kantor, aku kembali menemukan temanku masih duduk di depan komputernya. Seperti biasa, sebelum pulang ke rumah, aku mampir dulu ke warnet ini untuk bermain game, melepas penat dan lelah seharian.
Sudah sebulan lebih ini, temanku dengan serius memelototi layar komputer itu. Bukan untuk bermain game atau menulis status di Facebook atau Twitter, tapi untuk mencari healing ticket, sebuah promo yang sedang diadakan oleh sebuah maskapai penerbangan baru untuk menarik calon pelanggan.
Selama dalam setahun akan dibagikan secara gratis satu healing ticket setiap hari kepada mereka yang beruntung dan belum pernah ke luar negeri. Healing ticket adalah semacam tiket gratis yang dapat kaugunakan selama setahun untuk pergi ke mana saja dengan maskapai penerbangan tersebut.
Jadi, di sinilah temanku berada.... mengklik salah satu kotak dari 64 kotak tersembunyi, yang muncul setiap setengah jam sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh maskapai penerbangan itu. Konon kabarnya, kadang kala, ada selembar healing ticket di antara kotak-kotak itu yang entah muncul pada jam keberapa.
Mereka yang mendapat selembar tiket itu tidak perlu lagi menjawab pertanyaan atau mengumpulkan poin untuk memperbesar kemungkinan menang. Mereka otomatis mendapat tiket itu dan pemenang hari itu menjadi dua orang. Satu dari undian, satu karena keberuntungan.
Temanku begitu terobsesi ingin pergi mengelilingi dunia. Ia sudah membuat daftar seratus tempat yang ingin dilihatnya. Karena itu kesempatan semacam ini sangat besar artinya buat dia. Meskipun demikian, aku sangat terkejut ketika suatu hari setelah istirahat makan siang, ia berkata padaku bahwa ia telah mengajukan surat pengunduran diri.
Aku terbengong-bengong saat itu dan yang pertama kali kukatakan adalah, "Mengapa kau tidak mengatakannya dulu padaku?"
"Karena kau akan menceramahiku!" sahutnya.
Ia benar. Jika ia membicarakannya dulu denganku, aku akan mengatakan padanya bahwa kemungkinan terpilih sangatlah kecil. Itu semustahil... semustahil... oke, semustahil novelku dapat terbit! Aku telah menulis tiga novel tapi belum satu pun yang terbit.
Bagaimanapun, demi persahabatan, aku tetap mengatakannya. Sepulang kerja hari itu—terakhir kalinya aku dan dia bersama-sama bermain Dota—aku menasihatinya bahwa membuka kotak harta karun dan menjawab sebanyak mungkin pertanyaan (yang sebagian besar tentang keunggulan maskapai tersebut) atau tidak, sama sekali tidak memengaruhi proses undian. Jika kamu benar-benar beruntung, kau hanya perlu membeli selembar undian untuk memenangkan lotre, atau dalam hal ini cukup membuka kotak itu sekali sehari.
"Tapi mungkin saja aku mendapatkan healing ticket di salah satu kotak itu pada suatu saat!"
Aku menghela napas panjang dan berkata, "Yang sedang kaulakukan lebih bodoh daripada seseorang penulis yang berharap dapat hidup dari novelnya di negeri ini!"
"Lebih bodoh darimu?" tukasnya spontan. Aku tak menggubrisnya.
"Coba pikir," lanjutku, "berapa juta orang yang sedang mengikuti event ini? Anggaplah suatu saat nanti, kau berada di jam yang tepat dan akan memilih kotak yang tepat yang berisi healing ticket. Jika kau terlambat sepersekian detik saja, dan seseorang di tempat lain mengklik kotak itu terlebih dulu, dia yang akan mendapatkannya, dan kotakmu hanya akan berisi pertanyaan lagi!"
**
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/healing-ticket_20160409_221258.jpg)