Breaking News:

Cerpen Apendi

Healing Ticket

SORE hari, sepulang kerja dari kantor, aku kembali menemukan temanku masih duduk di depan komputernya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Healing Ticket 

Kamu hanya perlu memenuhi dua persyaratan: Belum pernah ke luar negeri dan mengisi formulir di situs ini sesuai dengan yang tercantum dalam KTP.

Kesempatanmu untuk mendapatkan Healing Ticket akan semakin besar jika kamu dapat menjawab dengan benar pertanyaan yang ada dalam kotak harta karun.

Dan siapa tahu kamu beruntung bisa langsung mendapatkan Healing Ticket dalam salah satu kotak tersebut!

Baris-baris kalimat itu tercantum dalam situs maskapai tersebut, dan selalu berhasil membuat jutaan orang kembali membacanya.

Healing ticket atau tiket penyembuh seharusnya berfungsi sebagaimana mestinya, yakni menyembuhkan orang dari kepenatan dan rutinitas hidup. Yah. barangkali memang begitu untuk mereka yang berhasil mendapatkannya. Tapi, layaknya uang, tiket itu lebih banyak membuat orang-orang terobsesi, stres, dan menjadi gila karenanya.

Aku bertanya-tanya, apakah temanku akan terus tinggal di warnet ini sampai batas promo tiket itu habis? Dan bagaimana jika ia tidak mendapatkannya?

Salah satu kelicikan yang kutemui dalam penyelenggaraan promo ini adalah persyaratan bahwa hanya mereka yang belum ke luar negeri yang boleh mengikuti kegiatan ini. Sekilas, hal itu tampak seperti sesuatu yang adil: memberikan kesempatan pada mereka yang belum ke luar negeri untuk melihat dunia.

Tetapi jika dipikir baik-baik, persyaratan itu adalah akal culas untuk menghemat kas perusahaan. Orang yang belum pernah ke luar negeri hanya dibagi menjadi dua: a) mereka yang belum cukup umur untuk pergi sendirian, dan b) mereka yang tidak mempunyai uang.

Maskapai yang licik itu membuka peluang lebih besar bagi orang kategori B untuk memenangkan healing ticket. Coba pikir, berapa kerugian maskapai itu jika yang memenangkan healing ticket adalah eksekutif perusahaan yang sering bolak-balik ke luar negeri untuk urusan bisnis?

Pemenang healing ticket (kategori B) paling-paling hanya mampu 1-2 kali ke luar negeri dalam setahun. Paling banyak 3-4 kali. Karena bagaimanapun, mereka harus mencari uang untuk membayar akomodasi, makanan, dan segala jenis hiburan lainnya. Jadi, apanya yang "mengelilingi dunia" jika kau cuma bisa pergi ke dua atau tiga tempat dalam setahun?

**

NAMUN tentu saja aku tidak mengeluh dengan persyaratan tersebut, apalagi jika ternyata aku beruntung memenangkan selembar healing ticket itu. Dapat pergi ke luar negeri satu dua kali dalam setahun masih lebih baik dibandingkan tidak pergi sama sekali. Bagi kebanyakan dari kami, pekerja kantor dengan gaji pas-pasan yang mempunyai jam kerja yang panjang dan tugas yang menumpuk, healing ticket kami adalah selembar karcis bioskop di akhir pekan.

Itu pun sudah termasuk beruntung.

Mereka yang gajinya tidak mampu mengimbangi harga karcis yang kian mahal terpaksa harus men-download film ilegal dari internet dan menghabiskan malam minggu sendirian di dalam kamar yang sempit.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved