Breaking News:

Cerpen Teguh Affandi

Suara Tokek

SEMUA telah disumbangkan. Terakhir sekardus besar berisi pernak-pernik bersama sekantong baju Mandira kudonasikan ke panti asuhan.

"Atau sebaliknya? Tokek itu ingin meramaikan rumah kita," aku membalik teori Lalita.

"Ha?" tanya Lalita kebingungan.

"Rumah ini sepi, jadi Tuhan memerintahkan tokek untuk meramaikan. Kan tokek hewan pembawa rezeki," aku menguatkan argumen.

Lalita terdiam sebentar memikirkan logis atau tidak teoriku. "Bisa jadi, apalagi tokek itu muncul pascakepergian Mandira dan bersembunyi di belakang lukisan Mandira."

Aku mengangguk. Lantas kami terbahak bersama menertawakan kesimpulan paling konyol yang pernah kami buat. Kami yakin tidak ada pemberian Tuhan yang sia-sia. Kematian Mandira semula mengagetkan kami. Tapi semakin lama, kami sadar bahwa kematian itu hak prerogatif Tuhan. Mungkin demikian pula kehadiran tokek yang mendadak di rumah kami. Keyakinan orang Jawa bahwa tokek mendatangkan rezeki bisa terjadi di rumah kami. Suaranya yang bising, ramai, dan bergema sudah menjadi sumber keceriaan kami.

Apalagi tokek itu selalu kami saksikan bersembunyi di belakang lukisan Mandira. Padahal banyak tempat bersembunyi lain, tapi tokek itu merasa nyaman dan hangat di belakang lukisan Mandira tepat di atas televisi. Semakin kuatlah keyakinan kami.

"Sudah nggak takut lagi sama tokek?" tanyaku kepada Lalita sambil menggoda.

Lalita menjawabnya dengan cengengesan. Kami berpikir positif suara tokek sedang mencoba mengusir kesunyian kami.

**

SUATU siang di hari Minggu, seorang pemburu tokek mendatangi rumah kami. Katanya dia bisa menangkap tokek liar dan menghargainya cukup tinggi. Lalita menjawab sedikit bercanda, "Ada seekor di rumah. Tapi liar. Coba saja kalau bisa menangkapnya." Lalita mengizinkannya karena yakin tidak ada yang bisa menangkap tokek itu. Tubuh tokek itu kecil, hingga mampu bergerak cepat dan bersembunyi di sela-sela sempit dan tidak terlihat. Lebih dari itu, kami mulai terbiasa dengan suara tokek dan tidak lagi merasakan kelengangan rumah.

Pemburu tokek akhirnya masuk. Dipersiapkannya sebuah jaring kecil. Tangannya dibungkus dengan sarung tangan. Muka ditutupi kerodong hitam. Mungkin demikian standar penangkapan seekor tokek liar. Meski tidak buas, tokek di rumah kami tetaplah hewan liar. Dia masih punya tangan yang bisa mencakar, punya rahang yang cukup membuat kulit robek.

"Biasanya tokek itu bersembunyi di belakang lukisan," aku menunjuk lukisan Mandira di atas televisi.

Lalita sedang sibuk di belakang membuat minuman dan menyiapkan kudapan ringan.

Pemburu tokek bersijingkat mendekati lukisan Mandira. Dibukanya perlahan lukisan Mandira. Dan benar! Tokek yang selama ini membuat rumah kami ramai berdiam di sana. Pemburu itu meletakkan lukisan dengan hati-hati agar tokek itu tidak terkagetkan. Secepat kilat, pemburu itu menangkap dengan tangan kanan. Begitu profesional. Kemudian tokek itu dielus-elus untuk mengurangi ketegangan. Lantas dimasukkan ke dalam keranjang kotak dari kawat berongga.

"Hebat, Pak!" aku memujinya. "Kami sudah berusaha menangkap dan mengusirnya, tapi tokek itu selalu berhasil menghindar."

Pemburu itu membuka topeng dan melepas sarung tangan. Kusaksikan totol-totol kuning dan merah yang mewarnai sekujur tubuh tokek. Indah memang. Wajahnya hampir didominasi oleh bundar mata yang besar. Tubuhnya pun semakin gemuk, dibandingkan pertama kali kulihat.

"Saya berani membelinya sejuta, Pak."

Aku dan Lalita saling pandang. Kami heran bagaimana seekor tokek yang tidak pernah kami beri makan bisa dihargai dengan begitu mahal.

"Bagaimana?" pemburu tokek itu kembali bertanya menunggu jawaban kami.

"Silakan," Lalita menjawab tanpa pernah kuduga.

Tokek itu kami lepas dengan setumpuk uang.

Selepas pemburu itu pergi, kutanya mengapa Lalita rela menjualnya. Padahal dia berkeyakinan itu adalah tokek yang dihadiahkan Tuhan sebagai pengganti keceriaan Lalita.

"Mas lupa kalau tokek itu pembawa rezeki?"

Aku masih diam.

"Ini yang rezeki tokek bawa untuk kita," Lalita tersenyum sambil memasukkan uang ke dalam dompet.

"Katanya suara tokek menggembirakan?" Apa Lalita lupa bahwa suara tokek sudah menyemarakkan rumah?

Lalita terdiam. Aku tidak lagi menimpali. Seketika seekor prenjak hinggap di jendela rumah kami. Dia berkicau lebih riang daripada suara tokek.

"Itu!" Lalita menunjuk ke arah jendela dengan wajah lebih gembira.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved