Cerpen Teguh Affandi
Suara Tokek
SEMUA telah disumbangkan. Terakhir sekardus besar berisi pernak-pernik bersama sekantong baju Mandira kudonasikan ke panti asuhan.
Pemburu itu membuka topeng dan melepas sarung tangan. Kusaksikan totol-totol kuning dan merah yang mewarnai sekujur tubuh tokek. Indah memang. Wajahnya hampir didominasi oleh bundar mata yang besar. Tubuhnya pun semakin gemuk, dibandingkan pertama kali kulihat.
"Saya berani membelinya sejuta, Pak."
Aku dan Lalita saling pandang. Kami heran bagaimana seekor tokek yang tidak pernah kami beri makan bisa dihargai dengan begitu mahal.
"Bagaimana?" pemburu tokek itu kembali bertanya menunggu jawaban kami.
"Silakan," Lalita menjawab tanpa pernah kuduga.
Tokek itu kami lepas dengan setumpuk uang.
Selepas pemburu itu pergi, kutanya mengapa Lalita rela menjualnya. Padahal dia berkeyakinan itu adalah tokek yang dihadiahkan Tuhan sebagai pengganti keceriaan Lalita.
"Mas lupa kalau tokek itu pembawa rezeki?"
Aku masih diam.
"Ini yang rezeki tokek bawa untuk kita," Lalita tersenyum sambil memasukkan uang ke dalam dompet.
"Katanya suara tokek menggembirakan?" Apa Lalita lupa bahwa suara tokek sudah menyemarakkan rumah?
Lalita terdiam. Aku tidak lagi menimpali. Seketika seekor prenjak hinggap di jendela rumah kami. Dia berkicau lebih riang daripada suara tokek.
"Itu!" Lalita menunjuk ke arah jendela dengan wajah lebih gembira.
***