Cerpen Teguh Affandi

Suara Tokek

SEMUA telah disumbangkan. Terakhir sekardus besar berisi pernak-pernik bersama sekantong baju Mandira kudonasikan ke panti asuhan.

Editor: Hermawan Aksan

"Setahuku, tokek tidak beracun. Wajahnya saja yang mengerikan," kuseruput teh hangat. Kehangatan menjalar ke dalam tubuhku, terlebih menyaksikan pasuryan (mimik muka) Lalita yang kembali cerah. Mandira akan tetap di hati kami, tetapi bukan untuk selamanya diratapi.

"Mandiralah yang berani memukul hewan-hewan begitu," seekor tokek ternyata menarik Lalita ke dalam pusara kenangan.

"Dia sudah tenang di alamnya. Kita tidak perlu terus-terusan bersedih," kuelus kepala Lalita. Rambutnya yang ikal kembang jagung halus di telapak tangan.

"Aku tidak sedih. Hanya saja, ingat Mandira yang seolah urat takutnya putus," Lalita meraih gelasku dan menyeruputnya.

Aku mengangguk membenarkan. Meski masih belia, tidak ada yang ditakuti Mandira. Kalau Lalita akan menjerit bila melihat kecoak di lubang kloset, Mandira sebaliknya. Dia, dengan tidak ada rasa jijik, memegang sungut kecoak dan melemparnya ke kawanan ayam di kadang belakang rumah. Dalam pikiran Mandira mungkin hewan menjengkelkan itu adalah sebutir kelereng yang bisa dimainkan. Lalita akan menjerit-jerit meminta Mandira untuk lekas mencuci tangan dengan sabun.

Tekek... tekek... tekek.... Tokek itu bersuara lagi. Lalita menggenggam tanganku. Bunyi tokek itu seperti dendang kemenangannya karena berhasil lolos dari usahaku menangkap.

"Konon suara tokek mendatangkan rezeki," candaku.

"Rezeki? Ngeri iya!" sergah Mandira. "Ditangkap saja atau diusir!"

Tapi bagaimana kutangkap kalau tokek lihai bersembunyi. Suaranya saja yang bisa kami terka. Bisa jadi si tokek sedang meringkuk di atas plafon, sela-sela genting, atau bahkan bersembunyi di dalam pipa air.

"Suaranya menggema seperti pakai echo!" aku melempar guyonan.

**

MAKIN hari suara tokek makin menjengkelkan. Bergema tanpa bisa dikendalikan. Kadang saat pagi teduh usai subuh atau di sore romantis berhiasi siluet lembayung senja. Namun lebih sering suara tokek mengganggu tidur malam kami. Menggema dan seolah meneriakkan kesepian paling dalam. Kesunyian yang disampaikan tokek diterjemahkan Lalita sebagai sebentuk teror kematian.

"Kamu berlebihan, Lalita!" aku menampiknya.

"Katanya begitu di internet," Lalita menghela napas. Meski usia tidak lagi muda, wajah Lalita tampak manis di antara kerut-kerut. Apalagi ditambah tingkah konyolnya.

Kadang terpikir tokek itu berusaha meramaikan rumah kami yang semenjak ditinggal Mandira menjelma sepi. Hanya ada aku dan Lalita. Tiap pagi kami sama-sama pergi kerja. Aku ke kantor, sedang Lalita mengajar di sekolah. Rumah sunyi, tidak lagi ada suara-suara keributan seperti yang biasa dulu Mandira ciptakan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved