Breaking News:

Cerpen Teguh Affandi

Suara Tokek

SEMUA telah disumbangkan. Terakhir sekardus besar berisi pernak-pernik bersama sekantong baju Mandira kudonasikan ke panti asuhan.

Tekek... tekek... tekek.... Tokek itu bersuara lagi. Lalita menggenggam tanganku. Bunyi tokek itu seperti dendang kemenangannya karena berhasil lolos dari usahaku menangkap.

"Konon suara tokek mendatangkan rezeki," candaku.

"Rezeki? Ngeri iya!" sergah Mandira. "Ditangkap saja atau diusir!"

Tapi bagaimana kutangkap kalau tokek lihai bersembunyi. Suaranya saja yang bisa kami terka. Bisa jadi si tokek sedang meringkuk di atas plafon, sela-sela genting, atau bahkan bersembunyi di dalam pipa air.

"Suaranya menggema seperti pakai echo!" aku melempar guyonan.

**

MAKIN hari suara tokek makin menjengkelkan. Bergema tanpa bisa dikendalikan. Kadang saat pagi teduh usai subuh atau di sore romantis berhiasi siluet lembayung senja. Namun lebih sering suara tokek mengganggu tidur malam kami. Menggema dan seolah meneriakkan kesepian paling dalam. Kesunyian yang disampaikan tokek diterjemahkan Lalita sebagai sebentuk teror kematian.

"Kamu berlebihan, Lalita!" aku menampiknya.

"Katanya begitu di internet," Lalita menghela napas. Meski usia tidak lagi muda, wajah Lalita tampak manis di antara kerut-kerut. Apalagi ditambah tingkah konyolnya.

Kadang terpikir tokek itu berusaha meramaikan rumah kami yang semenjak ditinggal Mandira menjelma sepi. Hanya ada aku dan Lalita. Tiap pagi kami sama-sama pergi kerja. Aku ke kantor, sedang Lalita mengajar di sekolah. Rumah sunyi, tidak lagi ada suara-suara keributan seperti yang biasa dulu Mandira ciptakan.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved