Cerpen Teguh Affandi

Suara Tokek

SEMUA telah disumbangkan. Terakhir sekardus besar berisi pernak-pernik bersama sekantong baju Mandira kudonasikan ke panti asuhan.

SEMUA telah disumbangkan. Terakhir sekardus besar berisi pernak-pernik bersama sekantong baju Mandira kudonasikan ke panti asuhan. Buku-buku yang semula menumpuk di kamar Mandira kuserahkan ke perpustakaan. Benda-benda Mandira yang tersisa di rumah hanya akan membangkitkan kenangan akan dirinya, yang membuat suasana rumah semakin suram pascakematiannya.

Seminggu lalu, Mandira kami kebumikan. Tentu bersama kesedihan dan genangan air mata yang seolah tidak kering terkuras. Kematian lebih dulu menghampiri di usianya yang baru delapan tahun. Mandira mendadak kehabisan napas pada saat pelajaran olahraga. Kami yang dikabari sesaat setelah Mandira diputuskan meninggal oleh dokter rumah sakit langsung syok. Seperti ada gada besar meluluhlantakkan perasaan. Lalita seketika pingsan. Aku terduduk lemas di kursi, mengelus dada, merapal doa, sambil mengingat pertemuan terakhir dengan Mandira saat kuantar ke sekolah.

Satu barang Mandira yang tidak boleh disumbangkan oleh Lalita. Bahkan benda itu masih terpajang di atas televisi seperti posisi semula. Sebuah lukisan tiga tangkai tulip dalam jambangan yang dibuat Mandira saat mengikuti lomba melukis. Lukisan itu tidak memenangkan perlombaan, tapi Lalita bersikeras membingkainya sebagai tanda kerja keras Mandira. Kata Lalita, biarlah lukisan itu tetap di rumah. Karena tidak ada yang mau menerima lukisan jelek. Andai disumbangkan, penerima hanya akan membuangnya atau tega merusak dan membakarnya.

"Hanya bapak-ibunya yang menghargai lukisan amburadul Mandira," kata Lalita dengan lelehan air mata kembali menggenang.

Jadilah lukisan Mandira tetap kami simpan. Meski kami sadar menyimpan kenangan masa lalu sama saja menyimpan sebuah belati yang siap kapan saja menikam hati. Tapi laiknya sebuah candu, makin menyiksa makin kami suka. Kenangan memang hal paling sulit untuk dihapuskan. Mungkin dia hanya mengerak di pojok pikiran dan ketika hujan datang bertubi-tubi, kenangan akan mengelupas dan kembali menghanyutkan.

**

SORE hari, aku bersantai di teras. Teh aroma vanila dan beberapa kerat bolu menemani. Aroma bubuk kayu manis di atas bolu menambah harum. Tiba-tiba Lalita menjerit kencang. Aku gegas menghampiri.

"Ada apa?" tanyaku.

"Ada tokek, Mas!" Lalita menudingkan gagang sapu ke arah lukisan Mandira. Wajah Lalita kuyu, pasi karena ketakutan.

Kuraih gagang sapu dari tangan Lalita. Aku mendekati lukisan Mandira. Perlahan kusingkap lukisan. Terlihat seekor tokek cukup besar bersembunyi. Mata tokek bulat dan berkedip-kedip lurus menatapku. Seolah menantang duel. Lalita minta tokek itu ditangkap lalu dibuang. Kusingkap makin lebar untuk memudahkan menggebuknya. Namun gerakanku kalah cepat dengan polah tokek. Seketika tokek itu kabur ke plafon.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved