Breaking News:

Cerpen Adi Zamzam

Sang Penjinak Angin

NUR sebenarnya tak ingin ikut-ikutan mereka yang begitu tergila-gila berburu angin. Jikalau bukan karena istrinya yang, "Kita harus punya angin...

Editor: Hermawan Aksan

"Aku tak mau tertipu," ujarnya lebih kepada diri sendiri. "Aku tak akan seperti mereka," lanjutnya, ketika melihat beberapa pemburu yang tergulung angin buruannya sendiri hingga terseret-seret menyedihkan. "Bagaimana bisa mereka mencari kesusahan mereka sendiri?"

Nur tak pernah silau dengan pemandangan menakjubkan yang dijumpainya di sepanjang perjalanan. Orang-orang berlomba-lomba membangun istana angin semegah mungkin. Mereka berlari sejauh mungkin demi mengejar angin. Tak peduli hingga ke lembah-lembah tergelap sekalipun, tak peduli pada bagaimana keadaan yang mereka akibatkan, pun pada kondisi diri sendiri yang kepayahan.

"Aku hanya akan mengambil angin sesuai kebutuhan," ujar Nur lebih kepada diri sendiri.

Tanah akan terus digali dan digali jika ada angin yang memang tersembunyi di bawah sana. Sungai akan dikuras, rawa-rawa dikeringkan, laut diledakkan, hutan pun akan dibakar habis demi memudahkan untuk mendapatkan angin.

"Siapa yang sebenarnya buta?" Nur menghibur diri sendiri jika mendengar ejekan para pemburu angin yang lain.

"Kalian hanya belum tahu saja bahwa pada saatnya nanti angin akan pergi meninggalkan kalian."

**

BERTAHUN-tahun kemudian, sebuah angin puting beliung yang tak diperkirakan oleh para peramal cuaca datang menghampiri beberapa kota. Seperti yang pernah diramalkan Nur si gila yang kini entah di mana, satu per satu istana angin yang telah dibangun runtuh dan runtuh. Banyak cara yang dilakukan orang-orang demi melindungi istana yang telah mereka bangun. Dari mulai membangun benteng setinggi-tingginya, membangun pemecah angin di perbatasan kota, sampai membangun menara penetral angin di tengah kota.

Tapi tetap saja sia-sia. Puting beliung itu seperti menjemput anak-anaknya yang tersebar di mana-mana. Orang-orang berteriak-teriak gila saat melihat istananya hilang di depan mata. Mereka pun mengejar. Meski tahu itu pun sia-sia.

"Apakah ini azab Tuhan yang diturunkan atas dosa-dosa kita?" ujar salah seorang di antara para pengejar angin itu.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved