Cerpen Adi Zamzam

Sang Penjinak Angin

NUR sebenarnya tak ingin ikut-ikutan mereka yang begitu tergila-gila berburu angin. Jikalau bukan karena istrinya yang, "Kita harus punya angin...

NUR sebenarnya tak ingin ikut-ikutan mereka yang begitu tergila-gila berburu angin. Jikalau bukan karena istrinya yang, "Kita harus punya angin. Bagaimanapun caranya. Seperti orang-orang."

"Itu, kan, hanya angin. Terasa ada tapi sebenarnya tak ada. Kau bahkan tak bisa benar-benar memegangnya. Mengapa kita harus mati-matian mengerjakan sesuatu yang pada akhirnya hanya mengakibatkan kekosongan?"

"Apa kau tak ingin aku bahagia seperti kebanyakan orang-orang?" perempuan itu seolah juga berkata bahwa selama ini ia tak pernah merasai kebahagiaan. Kebahagiaan yang seperti milik kebanyakan orang.

Nur sudah menjelaskan—bahkan sebelum mereka setuju menikah—bahwa ia tak seperti kebanyakan orang. Namun setelah pernikahan berjalan menyeberangi waktu, istrinya seperti ingin melupakan hal itu.

**

SUDAH hampir sepekan Nur jauh dari rumah. Keluar-masuk kota, turun-naik lembah dan bukit demi mengumpulkan angin. Karung penampung angin baru seperempatnya terisi. Namun semangatnya sudah selayak kain basah yang tersampir di tali jemuran.

"Kalau tak ada minat, kenapa kau melakoninya?" tanya seorang pengembara yang sempat menyelamatkannya saat Nur terperosok ke dalam sebuah jurang keputusasaan. Seseorang yang katanya sudah tak butuh apa-apa lagi selain hanya ingin membuat orang lain bahagia.

"Karena istri saya," jawab Nur sedih. Seperti kesedihan ketika ia melihat istrinya yang tampak gelisah ketika melihat orang lain bergelimang angin. Nur sedih. Dan ia hanya bisa bersedih karena apa yang ia lihat tak seperti apa yang dilihat istrinya.

Nur tak mau menyalahkan takdir yang menyatukannya dengan istrinya. Semuanya sudah terjadi, dan hanya bisa dipandangi. Ini hanya soal perbedaan lumrah yang kerap mengingatkan Nur bahwa ia sudah (merasa) mengidap kelainan ini sedari bocah. Nur juga takkan lupa dengan lakon kedua orang tuanya. Mereka adalah sepasang pemburu angin sejati yang mulanya begitu kompak. Gudang penyimpanan anginnya tersebar di sana-sini. Namun toh kisahnya justru tak berakhir bahagia saat satu per satu gudang penyimpanan angin itu roboh. Hubungan mereka turut retak. Seolah yang menyatukan mereka adalah angin itu sendiri, yang gampang datang dan gampang pergi.

"Aku hanya mengingatkanmu. Aku hanya tak ingin, saat tiba waktunya angin itu pergi, kau terperosok dalam jurang kesedihan yang teramat dalam," tutur Nur suatu ketika.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved