Sabtu, 23 Mei 2026

Memuliakan Sungai Layaknya Keluarga

RASANYA tidak mungkin ada warga Bandung yang tidak tahu nama Ci Tarum (Ci berarti sungai dalam Bahasa Sunda).

Tayang:
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
CITARUM - Foto arsip ilustrasi Sungai Citarum. Sejumlah pria berburu cacing sutra di Sungai Citarum, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (19/5/2025). 

Tentunya jika sungai masih tercemar, menikmati fungsi sungai akan menjadi sulit. Sama halnya dengan mengasihi sesama manusia, fokus terhadap kekurangan membuat semua langkah perbaikan menjadi beban apabila tidak ada goal setelah penyakitnya disembuhkan.

‘Tidak tercemar’ bukanlah goal-nya, sungai bukanlah statistik yang dinilai dengan hijau atau merah. Valuasi sumber daya alam tidak berhenti di angka dan grafik.

‘Masyarakat setempat ingin menikmati fungsi sungai’ adalah goal-nya. Nama dan reputasi sungai seharusnya menjadi pertanda masyarakat yang menuai kultur yang intim dan lokal dengan sungai.

‘Anak-anak mengenal nama-nama ikan karena memancing di bendungan sungai yang bisa mereka namakan’. Valuasi sumber daya alam tertentu menjadi tak ternilai apabila kita mendapatkan nikmat pengalaman dan memori. 

Kita sebagai manusia kenal betul bahwa memori dengan sahabat dan keluarga tidak bisa digantikan. Jika sudah intim, hal-hal teknis seperti geografi sungai, dimensi sungai, dan hubungan antar sungai menjadi menarik untuk diingat. Aturan mengenai kelestarian sungai tidak menjadi kewajiban, melainkan ketertarikan.

Melestarikan sungai tidak akan efektif apabila hanya menegakkan ukuran bantaran sungai atau melihat dampak ekonomis. Insentif dan disinsentif didasari oleh angka, dan angka selalu bisa dinegosiasi.

Masyarakat tidak merasa reputasinya tercoreng ketika sungai tercemari walaupun limbah domestik adalah sumber pencemaran terbesar pada sungai. Fenomena ini jelas terjadi karena kita menganggap sungai itu ‘orang asing’ yang kebetulan tinggal di sekitar kita. 

Akan berbeda sentimen yang kita tunjukkan apabila sungai tersebut seakan-akan adalah anggota keluarga kita. Sebisa mungkin kita memulihkan reputasi yang tercoreng, tidak ada tawar menawar mengenai harga yang harus dibayar untuk memulihkan reputasi tersebut.

Nama dan reputasi perlu menjadi parameter keberhasilan pemeliharaan sungai. Keterikatan secara budaya harus bisa diamati sebagai valuasi yang secara tahun ke tahun membaik.

Apakah pemerintah sanggup mencantumkan hal tersebut dalam program pemeliharaan sungai?

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved