Memuliakan Sungai Layaknya Keluarga
RASANYA tidak mungkin ada warga Bandung yang tidak tahu nama Ci Tarum (Ci berarti sungai dalam Bahasa Sunda).
Oleh: Muhammad Musthofa dan Rahab
(Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Jenderal Soedirman)
TRIBUNJABAR.ID - RASANYA tidak mungkin ada warga Bandung yang tidak tahu nama Ci Tarum (Ci berarti sungai dalam Bahasa Sunda). Namanya mudah diingat dan ukurannya besar. Seperti itulah anak SD mengingat sungai tersebut.
Ci Tarum juga sungai yang sering dikaitkan dengan kasus pencemaran dan banjir. Disinilah reputasi mulai menanam nama Ci Tarum di semua warga bandung.
Tidak ada rasa cinta atau benci jika tidak kenal nama atau reputasi, lalu bagaimana nasib Sungai lain yang jangankan reputasi, nama saja tidak dikenal?
Ci Tarum itu sungai milik Provinsi Jawa Barat, sebenarnya tidak 100 persen tepat jika dibilang Ci Tarum itu terletak di Bandung— justru Bandunglah yang terletak di tengah-tengah Ci Tarum.
Jika bicara sungai yang jelas milik Bandung, Sungai Ci Kapundung lah jawaban yang seharusnya semua warga Bandung ketahui sebagai sungai utama Bandung. Apakah ada lagi sungai selain kedua sungai tersebut?
Tentu jawabannya ada, tapi jangan salah paham— jangan menganggap Sungai Citarum dan Sungai Ci Kapundung itu seakan-akan dua sungai yang tidak berhubungan. Ci Kapundung sendiri berhulu di Gunung Bukit Tunggul (Lembang) dan bermuara di Sungai Ci Tarum.
Jika diibaratkan seperti manusia, sungai yang disebut selain kedua sungai tersebut itu termasuk keluarga, bukan ‘orang asing’. Misalnya, Sungai Ci Kapundung punya enam anak sungai: Ci Panjalu, Gulung, Ci Umbuleuit, Ci Paganti, Ci Palasari, dan Ci Kapundungkolot.
Lantas, bagaimana reputasi setiap anak Ci Kapundung? Apakah reputasinya sebatas nama keluarga?
Di sinilah masyarakat dan pemerintah memiliki mindset minus dalam melestarikan sungai. Kita hanya peduli reputasi ketika reputasi tersebut negatif dan berbeda. Tidak sulit mencari berita mengenai kondisi Ci Kapundung yang dicemari limbah domestik dan industri. Jika Ci Kapundung tercemar, apa perlu mengingat anak sungainya?
Jika orang tuanya sudah tercemar, maka anaknya pun tercemar. Jika orang tuanya diobati, harapannya anaknya pun otomatis terobati. Tentunya manusia tidak berfungsi demikian dan hal tersebut adalah anugerah yang manusia nikmati.
Mungkin ada baiknya jika sungai pun perlu pemeliharaan seakan-akan sungai itu manusia—Terikat oleh hubungan keluarga, tetapi juga memiliki karakteristik dan potensial tersendiri.
Sungai tidak hanya ‘eksis’, ada fungsi yang seharusnya bisa dinikmati oleh masyarakat, selain sebagai penampung air hujan.
Jika ada bendungan, sungai bisa menjadi tempat rekreasi memancing dan titik kumpul masyarakat. Jika ada bantaran dan sempadan, sungai bisa menjadi tempat bermain anak-anak.
| Hujan Lebih dari 24 Jam, Sejumlah Sungai di Karawang Meluap dan Berstatus Awas di Level 2 |
|
|---|
| Ludah di Meja Kasir: Etika Pendidik di Ruang Publik |
|
|---|
| PLN UID Jabar PLN UP3 Bandung dan YBM PLN Hadir Penuhi Kebutuhan Warga Terdampak Banjir Citarum |
|
|---|
| Gubernur Dedi Mulyadi Janjikan Beri Rp 10 Juta untuk Relokasi Ratusan Warga Bantaran Sungai Citarum |
|
|---|
| Tergelincir ke Sungai Citarum di Margaasih Bandung, Seorang Anak Usia 14 Tahun Hilang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/20250519_GANI_Cacing_Sutra_01.jpg)