Senin, 8 Juni 2026

Rupiah Tertekan dan IHSG Anjlok, Pengamat Unpas: Kelas Menengah Makin Terjepit

Melemahnya nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai semakin memperberat kondisi masyarakat kelas menengah. 

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Kontan/Chepy A Muchlis
ILUSTRASI IHSG ANJLOK -Melemahnya nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai semakin memperberat kondisi masyarakat kelas menengah.  

Ringkasan Berita:
  • Melemahnya nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai semakin memperberat kondisi masyarakat kelas menengah
  • Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, mengatakan kelas menengah merupakan kelompok yang paling terdampak oleh kondisi ekonomi saat ini karena memiliki kontribusi terbesar terhadap konsumsi masyarakat

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Melemahnya nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai semakin memperberat kondisi masyarakat kelas menengah. 

Diketahui, rupiah anjlok hingga tembus Rp18 ribu per dolar AS, rekor tertinggi sepanjang sejarag. Sedangkan IHSG anjlok 4,20 persen dan berakhir di level 5.594,765 pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026).

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, mengatakan kelas menengah merupakan kelompok yang paling terdampak oleh kondisi ekonomi saat ini karena memiliki kontribusi terbesar terhadap konsumsi masyarakat.

"Tentu kelas menengah paling terdampak, karena kelas menengah ini merupakan bagian terbesar dari konsumsi masyarakat," kata Acuviarta, Minggu (7/6/2026). 

Menurutnya, tekanan terhadap kelas menengah sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. 

Baca juga: Pengusaha Sebut Pelemahan Rupiah Tak Terlalu Mengguncang UMKM, Tapi Berat bagi Skala Pabrik 

Bahkan, kata Acuviarta, sebelum nilai tukar rupiah melemah seperti saat ini, jumlah masyarakat yang masuk kategori kelas menengah sudah terus menyusut.

"Kalau melihat data BPS dari 2019 sampai 2025, sudah lebih dari 10 juta orang yang keluar dari kelompok kelas menengah. Yang menjadi persoalan, mereka bukan naik ke kelas atas, tetapi turun ke kelompok ekonomi di bawahnya," ujarnya.

Acuviarta menjelaskan kelas menengah selama ini menjadi motor penggerak perekonomian nasional. 

Selain menopang konsumsi rumah tangga, kelompok ini juga berperan besar dalam investasi dan pembayaran pajak.

"Kelas menengah yang selama ini menopang konsumsi, investasi, dan pendapatan pemerintah melalui pajak terus mengalami tekanan," katanya.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu segera melakukan koreksi terhadap kebijakan anggaran agar ruang gerak masyarakat kelas menengah tidak semakin menyempit.

"Pemerintah harus memberikan napas kepada kelas menengah. Karena saat ini mereka bertahan dengan mengandalkan tabungan yang terus terkuras," ujarnya.

Baca juga: Rupiah Ambruk ke Rp18.095, Warga di Bandung Mulai Lirik Mata Uang Asing Selain Dolar

Ia menambahkan gejala tersebut juga terlihat dari perlambatan pertumbuhan kredit dan tabungan masyarakat.

Dikatakan Acuviarta, kondisi itu menunjukkan kemampuan finansial rumah tangga semakin terbatas di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved