Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Ambruk Tembus Rp18.028 per Dolar AS, Pengamat Ekonomi Uninus: Ini 'Crisis of Confidence'!

engamat Ekonomi Uninus Mochammad Rizaldy menilai anjloknya rupiah hingga Rp18.028 per dolar AS bukan sekadar isu nilai tukar.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Ravianto
Kompas.com
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. Pengamat Ekonomi Uninus Mochammad Rizaldy menilai anjloknya rupiah hingga Rp18.028 per dolar AS bukan sekadar isu nilai tukar, melainkan sinyal krisis kepercayaan.(KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, mengatakan pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp18.028 per dolar AS menunjukkan pasar sedang mengirimkan sinyal kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kondisi ekonomi nasional.

"Kalau rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, menurut saya ini bukan lagi sekadar isu nilai tukar, tetapi sudah menjadi indikator bahwa pasar sedang mengirimkan sinyal kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kondisi ekonomi dan iklim investasi Indonesia," kata Rizaldy, kepada Tribunjabar.id, Kamis (4/6/2026). 

Ia menjelaskan, beberapa bank asing bahkan dilaporkan telah menawarkan dolar AS di atas Rp18.000 pada perdagangan terbaru.

Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini berkaitan erat dengan koreksi yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

"Ketika investor asing melepas aset di pasar saham Indonesia, mereka akan menjual aset berdenominasi rupiah dan beralih membeli dolar AS."

Akibatnya, tekanan terjadi secara bersamaan terhadap pasar saham dan nilai tukar. IHSG mengalami penurunan, sementara rupiah semakin melemah terhadap dolar AS.

"Kondisi ini diperparah oleh penguatan dolar AS global, kenaikan harga minyak dunia, konflik geopolitik, serta arus modal yang keluar dari negara berkembang," ujarnya.

Meski demikian, Rizaldy menilai faktor yang paling penting untuk dicermati bukan hanya berasal dari kondisi eksternal. 

"Pasar saat ini juga tengah menilai tingkat kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah," katanya. 

Ia menyebut transparansi pasar modal, arah kebijakan fiskal, hingga konsistensi regulasi menjadi faktor yang menentukan keputusan investor untuk bertahan atau keluar dari pasar Indonesia.

"Ketika kepercayaan menurun, investor akan meminta premi risiko yang lebih tinggi atau memilih keluar dari pasar. Itulah sebabnya saya pernah menyampaikan bahwa kondisi saat ini lebih mendekati crisis of confidence daripada krisis ekonomi riil," katanya.

Meski rupiah tertekan dan IHSG terkoreksi, Rizaldy menegaskan kondisi saat ini belum dapat disamakan dengan krisis ekonomi 1998.

Menurutnya, fundamental sektor perbankan Indonesia masih jauh lebih kuat. Selain itu, cadangan devisa masih tersedia dan Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas pasar.

"Bank Indonesia telah melakukan intervensi besar serta menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah," ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan adanya efek psikologis yang perlu diwaspadai. Dalam pasar keuangan, kata dia, persepsi investor kerap bergerak lebih cepat dibandingkan data ekonomi yang sesungguhnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved