Rupiah Jebol Rp18.028 per Dolar AS, Sinyal Kekhawatiran Investor Meningkat
Pelemahan rupiah di level Rp18.028 per dolar AS menunjukkan kekhawatiran yang cukup kuat pasar terhadap ekonomi nasional.
Penulis: Nappisah | Editor: Kemal Setia Permana
Ringkasan Berita:
- Rupiah melemah hingga menyentuh level Rp18.028 per dolar AS yang menandakan kekhawatiran pasar.
- Pengamat ekonomi Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy menilai kondisi ini sebagai krisis kepercayaan.
- Pelemahan rupiah berkaitan erat dengan koreksi IHSG dan arus modal keluar dari pasar domestik.
- Meskipun tertekan, kondisi ekonomi saat ini dinilai belum separah krisis moneter tahun 1998.
- Bank Indonesia melakukan intervensi dan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp18.028 per dolar AS menunjukkan pasar sedang mengirimkan kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kondisi ekonomi nasional.
Hal itu diungkapkan oleh pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy.
Rizaldi menjRizaldy beberapa bank asing bahkan dilaporkan telah menawarkan dolar AS di atas Rp18.000 pada perdagangan terbaru.
Rizaldi menjelaskan beberapa bank asing bahkan dilaporkan telah menawarkan dolar AS di atas Rp18.000 pada perdagangan terbaru.
"Kalau rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, menurut saya ini bukan lagi sekadar isu nilai tukar, tetapi sudah menjadi indikator bahwa pasar sedang mengirimkan sinyal kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kondisi ekonomi dan iklim investasi Indonesia," kata Rizaldy, kepada Tribunjabar.id, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Rupiah Jeblok Tembus Rp18.000, Warga Bandung Serbu Money Changer, Ramai-ramai Jual Dolar
Menurut Rizaldi, beberapa bank asing bahkan dilaporkan telah menawarkan dolar AS di atas Rp18.000 pada perdagangan terbaru.
Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini berkaitan erat dengan koreksi yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ketika investor asing melepas aset di pasar saham Indonesia, mereka akan menjual aset berdenominasi rupiah dan beralih membeli dolar AS.
PeleMeski demikian, Rizaldyadi saat ini berkaitan erat dengan koreksi yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Akibatnya, tekanan terjadi secara bersamaan terhadap pasar saham dan nilai tukar. IHSG mengalami penurunan, sementara rupiah semakin melemah terhadap dolar AS.
"Kondisi ini diperparah oleh penguatan dolar AS global, kenaikan harga minyak dunia, konflik geopolitik, serta arus modal yang keluar dari negara berkembang," ujarnya.
Meski demikian Rizaldy menilai faktor yang paling penting untuk dicermati bukan hanya berasal dari kondisi eksternal.
"Pasar saat ini juga tengah menilai tingkat kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah," katanya.
Ia menyebut transparansi pasar modal, arah kebijakan fiskal, hingga konsistensi regulasi menjadi faktor yang menentukan keputusan investor untuk bertahan atau keluar dari pasar Indonesia.
| Rupiah Ambruk Tembus Rp18.028 per Dolar AS, Pengamat Ekonomi Uninus: Ini 'Crisis of Confidence'! |
|
|---|
| Rupiah Jeblok Tembus Rp18.000, Warga Bandung Serbu Money Changer, Ramai-ramai Jual Dolar |
|
|---|
| Lelang Proyek Infrastruktur Pemprov Jabar Sempat Sepi Peminat Akibat Rupiah Melemah |
|
|---|
| Pelemahan Rupiah hingga Daya Beli Lesu, Kadin Beberkan Beban Pengusaha Saat Ini |
|
|---|
| Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Farhan Dorong Perajin Tahu Tempe di Bandung Efisiensi Produksi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ilustrasi-nilai-tukar-rupiah-kurs-rupiah-dan-dollar-AS.jpg)