Harga Pertamax Naik, Pengamat: Waspada Efek Berantai dan Risiko Inflasi
Dampak kenaikan harga BBM tidak hanya dirasakan pada sektor transportasi, tetapi juga dapat memicu efek berantai terhadap aktivitas ekonomi.
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari yang semulanya Rp12.300 per liter, dinilai semakin beratnya tekanan fiskal pemerintah
- Sejumlah konsumen mulai mempertimbangkan beralih ke jenis BBM yang lebih murah untuk menekan pengeluaran rutin
- Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daya beli kelompok menengah juga mulai tertekan akibat meningkatnya berbagai kebutuhan rumah tangga
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari yang semulanya Rp12.300 per liter, dinilai semakin beratnya tekanan fiskal pemerintah dan meningkatnya beban yang harus ditanggung PT Pertamina di tengah lonjakan harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, mengatakan keputusan menaikkan harga Pertamax tidak terlepas dari membengkaknya biaya pengadaan bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini turut ditopang oleh skema subsidi dan kompensasi pemerintah.
Menurutnya, sebelumnya harga Pertamax sempat dipertahankan agar dapat menampung perpindahan konsumen dari produk BBM non-subsidi lain yang lebih mahal, sekaligus meminimalkan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi.
"Pertamax tidak dinaikkan itu dalam rangka menampung migrasi dari konsumen Pertamax Turbo yang naik. Selain itu juga untuk meminimalkan dampak kenaikan harga BBM terhadap tingkat inflasi," kata Acuviarta, Rabu (10/6/2026).
Diketahui, inflasi Jawa Barat pada Mei 2026 secara bulanan (month to month) mencapai 0,24 persen.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode Mei dalam tiga tahun terakhir.
Padahal pada Mei 2024 Jawa Barat mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.
Kondisi serupa juga terjadi pada Mei 2025 dengan deflasi sebesar 0,32 persen
Dikatakan Acuviarta, kondisi ekonomi global yang berubah membuat ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Harga minyak mentah dunia yang kini berada di kisaran 100 dolar AS per barel jauh melampaui asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel.
Di saat yang sama, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan sehingga biaya impor energi meningkat.
Acuviarta menjelaskan setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat menambah beban APBN sekitar Rp6 triliun.
Dengan selisih harga yang cukup jauh dari asumsi awal, beban subsidi dan kompensasi energi menjadi semakin besar.
"Ketika kondisi fiskal pemerintah mengalami tekanan, kemampuan pemerintah untuk memberikan kewajiban kepada Pertamina juga berkurang. Sementara Pertamina harus menanggung kenaikan biaya impor BBM dan distribusi yang terus meningkat," ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat Pertamina tidak memiliki banyak pilihan selain melakukan penyesuaian harga secara bertahap untuk menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan.
| Siasati Lonjakan Pertamax, Pengendara Mobil di Bandung Ramai-ramai Urus Barcode untuk Beli Pertalite |
|
|---|
| Strategi Wali Kota Bandung Hadapi Kenaikan BBM: ASN Pakai Carpool, Potong Dana Mamin dan Perjalanan |
|
|---|
| Kemarau Panjang Mengancam Pasokan, Pengamat Minta Jabar Antisipasi Kenaikan Harga Pangan |
|
|---|
| Prabowo Mau Sawit hingga Batu Bara Diekspor Lewat BUMN, Pengamat: Pasar Ekspor Membutuhkan Fokus |
|
|---|
| Presiden Prabowo 'Senggol' Gaji ASN dan Guru, Pengamat Singgung PPPK dan Honorer Perlu Diperhatikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/beli-pertamax-di-ciamis.jpg)