Sabtu, 30 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp17.800, Ekonom Unpar Ingatkan Status Indonesia Sebagai Importir Minyak 

Nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp17.800 per dolar AS dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari kebijakan suku bunga.

Tayang:
Kompas.com
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp17.800 per dolar AS dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi The Fed hingga ketegangan geopolitik. 
  • Ekonom Unpar, Aknolt Kristian Pakpahan, mengingatkan risiko rupiah menyentuh Rp18.000 akibat status Indonesia sebagai importir bersih minyak di tengah krisis energi. 
  • Untuk menjaga stabilitas, ia menekankan pentingnya sinergi kebijakan fiskal Kemenkeu dan intervensi Bank Indonesia.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nilai tukar rupiah yang kembali melemah yaitu Rp17.800 per dolar AS, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global yang belum mereda. 

Kondisi ini dinilai bukan sekadar dipengaruhi satu faktor, melainkan kombinasi persoalan global dan domestik yang saling berkaitan.

“Pelemahan rupiah saat ini harus dilihat secara menyeluruh karena dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik global, hingga faktor internal Indonesia sendiri. Pelemahan rupiah harus dilihat sebagai kombinasi faktor global dan domestik,” kata Ekonom Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, Jumat (29/5/2026).

Aknlot menjelaskan, dari sisi global, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama. Menurutnya, kondisi ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat dan stabil membuat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), cenderung mempertahankan tingkat suku bunga tinggi.

Situasi tersebut membuat investor global lebih memilih menempatkan dananya pada aset yang dianggap aman seperti dolar AS, saham, maupun obligasi Amerika Serikat yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

“Investor global rasanya cenderung memilih menempatkan dana pada aset yang relatif lebih aman seperti dolar AS dan stock and bonds AS yang memberikan imbal hasil lebih menarik,” ujarnya.

Akibatnya, arus modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Permintaan terhadap dolar AS meningkat dan memberi tekanan terhadap rupiah.

Selain faktor suku bunga AS, Aknolt menilai ketegangan geopolitik global juga menjadi pemicu besar pelemahan mata uang domestik. 

Konflik di berbagai kawasan dunia berdampak pada krisis energi global yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Menurutnya, kondisi tersebut memberi tekanan tambahan bagi Indonesia karena masih berstatus sebagai importir bersih minyak. 

Ketika harga energi meningkat, kebutuhan devisa untuk impor energi ikut naik dan akhirnya menekan neraca perdagangan maupun transaksi berjalan.

“Perlu dicatat, kita masih merupakan importir bersih minyak, sehingga harga energi yang tinggi cenderung negatif bagi rupiah,” katanya.

Di sisi domestik, pasar juga mencermati kondisi fiskal pemerintah, kebutuhan pembiayaan negara, prospek pertumbuhan ekonomi, hingga daya beli masyarakat yang dinilai masih menghadapi tantangan.

Aknolt mengatakan, rupiah sebenarnya masih memiliki peluang untuk kembali menguat. Namun ada sejumlah syarat yang harus terpenuhi, mulai dari sinyal penurunan suku bunga oleh The Fed hingga membaiknya kondisi geopolitik global.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved