Minggu, 17 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp17.500 dan Diklaim Tak Berdampak ke Desa, Pengamat Beri Warning Keras: Ada Apa?

Pandangan bahwa dampaknya tidak terlalu terasa bagi masyarakat desa memang memiliki dasar kebenaran dalam konteks tertentu. 

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Kompas.com
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 

Ringkasan Berita:
  • Melemahnya rupiah terhadap dolar AS hingga mendekati Rp17.600 dinilai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto tidak memberikan dampak langsung kepada masyarakat desa
  • Dosen sekaligus pengamat ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, mengatakan pandangan bahwa dampaknya tidak terlalu terasa bagi masyarakat desa memang memiliki dasar kebenaran dalam konteks tertentu. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Melemahnya rupiah terhadap dolar AS hingga mendekati Rp17.600 dinilai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto tidak memberikan dampak langsung kepada masyarakat desa, yang aktivitas ekonominya dinilai lebih bertumpu pada sektor lokal. 

Padahal, nilai tukar rupiah tersebut tertinggi sepanjang sejarah. 

Menanggapi hal tersebut, Dosen sekaligus pengamat ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, mengatakan pandangan bahwa dampaknya tidak terlalu terasa bagi masyarakat desa memang memiliki dasar kebenaran dalam konteks tertentu. 

Kendati demikian, Riza menegaskan pernyataan tersebut tidak sepenuhnya tepat jika diproyeksikan dalam jangka lebih panjang. 

“Secara langsung, masyarakat desa mungkin tidak terlalu merasakan dampaknya karena transaksi sehari-hari menggunakan rupiah dan tidak berhubungan langsung dengan dolar AS. Namun secara tidak langsung, pelemahan rupiah tetap dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat hingga ke daerah,” jelasnya, kepada TribunJabar.id, Minggu (17/5/2026). 

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Farhan Sebut Biaya BBM untuk Angkut Sampah Tambah Berat

Riza menuturkan, pengaruh dari anjloknya rupiah yang saat ini stagnan dinilai Rp17 ribu, mestinya menjadi lonceng pengingat bagi pemerintah. 

Pasalnya, pengaruhnya bukan isapan jempol. Tak hanya menyasar segmentasi wilayah, dampak kenaikan harga barang yang memiliki ketergantungan impor atau bahan baku impor akan turut dirasakan masyarakat desa. 

“Seperti BBM, pupuk, pakan ternak, obat-obatan, hingga beberapa kebutuhan elektronik,” imbuhnya. 

Riza mencontohkan, jika rupiah terus melemah, biaya distribusi dan produksi juga bisa meningkat, sehingga akhirnya berdampak pada harga barang di pasar tradisional maupun kebutuhan masyarakat desa.

Selain itu, kata dia, pelemahan rupiah juga dapat mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. 

“Ketika harga kebutuhan naik tetapi pendapatan masyarakat tidak ikut meningkat, maka tekanan ekonomi akan mulai terasa secara bertahap,” imbuhnya. 

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat inflasi di Jabar secara year on year (yoy) April 2026 berada di level 2,49 persen, sedangkan secara year to date (ytd) April 2026 sebesar 1,17 persen.

Adapun komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi year on year April 2026 yaitu emas perhiasan sebesar 0,81 persen, daging ayam ras sebesar 0,21 persen, beras sebesar 0,17 persen, minyak goreng sebesar 0,09 persen, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,08 persen.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Apindo Jabar: Dunia Usaha Mulai Tertekan

Dikatakan Riza, semestinya pemerintah perlu diwaspadai pemerintah jika rupiah terus melemah adalah meningkatnya biaya impor, tekanan terhadap inflasi. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved