Kamis, 28 Mei 2026

Pengaruh Dolar Sudah Dirasakan di Cirebon: Hotel Perang Tarif, Pengusaha Furniture Ketar-ketir

Sejumlah hotel memilih banting harga demi mempertahankan tamu, sementara pelaku usaha furniture menghabiskan stok lama.

Tayang:
canva
ILUSTRASI HOTEL - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan serius terhadap sektor usaha di Kota Cirebon. 

Ringkasan Berita:
  • Melemahnya rupiah terhadap dolar AS mulai memukul bisnis hotel dan furniture di Kota Cirebon
  • Sejumlah hotel memilih banting harga demi mempertahankan tamu, sementara pelaku usaha furniture menghabiskan stok lama agar pelanggan tidak kabur akibat harga naik. 
  • Kondisi ini dipicu tekanan ekonomi berkepanjangan dan lonjakan dolar yang menyentuh kisaran Rp17.700.

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan serius terhadap sektor usaha di Kota Cirebon. Bisnis perhotelan menjadi salah satu yang paling terasa terdampak di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar stabil.

Sejumlah hotel bahkan mulai memainkan strategi banting harga demi menjaga tingkat hunian kamar tetap bertahan. Langkah itu dilakukan karena daya beli masyarakat disebut semakin menurun dan perputaran uang di masyarakat melambat.

Kondisi tersebut diungkapkan pengusaha hotel di Cirebon, Rere Soraya, saat berbincang dengan media pada Senin (26/5/2026).

Menurut Rere, persaingan antarhotel saat ini berjalan jauh lebih ketat dibanding sebelumnya alias perang tarif. Situasi ekonomi membuat masyarakat semakin berhitung ketika mengeluarkan uang, termasuk untuk kebutuhan menginap.

“Oh, banting harga. Banting harga, main murah-murahan,” ujar Rere.

Ia menuturkan, dunia usaha sebenarnya sudah menghadapi tekanan berat bahkan sebelum nilai dolar kembali melonjak. Setelah sempat mulai bangkit pascapandemi Covid-19, pelaku usaha kini kembali diterpa berbagai persoalan ekonomi baru.

“Ya karena uang, cari uang kan susah. Apalagi sekarang tambah lagi, dari sebelum dolar naik pun sudah susah. Sejak Covid itu baru mulai bangkit, ada masalah kerusuhan lah, inilah, itulah. Sekarang lagi dolar lagi naik,” ucapnya.

Rere menjelaskan, tekanan yang dirasakan sektor hotel berbeda dengan industri manufaktur yang terdampak langsung oleh bahan baku impor. Dalam bisnis perhotelan, beban terbesar justru berada pada biaya operasional harian dan pengeluaran untuk sumber daya manusia yang harus terus berjalan.

Karena itu, menurutnya, efisiensi tenaga kerja menjadi langkah yang paling mungkin ditempuh ketika kondisi usaha semakin berat.

“Kalau hotel kan bukan bahan baku ya, lebih ke SDM ya. Ya ujung-ujungnya solusinya ya mau enggak mau pengurangan tenaga kerja, efisiensinya. Hanya dengan cara itu. Selebihnya ya enggak ada, karena kan semuanya harus berjalan,” jelas dia.

Di tengah situasi yang belum menentu, Rere berharap kondisi ekonomi nasional dapat segera membaik agar aktivitas bisnis kembali bergerak normal dan daya beli masyarakat kembali pulih.

“Harapannya tentu dolar membaik, ekonomi membaik, semua bisa berjalan bagus lagi dunia bisnis, ekonomi berputar, everybody happy,” katanya.

Tekanan akibat melemahnya rupiah ternyata bukan hanya dirasakan sektor perhotelan. Pelaku usaha furniture di Kota Cirebon juga mulai menghadapi persoalan serupa akibat harga barang yang terus mengalami kenaikan.

Pemilik Istana Mebel di Jalan Pekarungan, Kota Cirebon, Rahayu Heria Hartati, mengaku memilih menghabiskan stok lama agar pelanggan tidak beralih akibat lonjakan harga barang dari pabrik.

Ia mengatakan, kenaikan harga dari produsen sudah terjadi secara bertahap selama sekitar tiga bulan terakhir, terutama sejak konflik global memanas.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved