Pelemahan Rupiah Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS Pukul Sentra Konfeksi, Harga Benang Naik 20 persen
Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS memicu kenaikan harga benang sebesar 20 persen di sentra konfeksi domestik.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS memicu kenaikan harga benang sebesar 15 hingga 20 persen di sentra konfeksi domestik.
- Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menyatakan IKM tekstil kian terjepit akibat pesanan sepi dan serbuan barang murah ilegal di e-commerce.
- Pihaknya mendesak pemerintah memperkuat bahan baku lokal, memberi relaksasi fiskal, serta memperketat pasar digital.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anjloknya nilai tukar Rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS memukul sentra konfeksi di tanah air.
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konfeksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman, mengatakan dampak yang terasa melonjaknya harga benang untuk bahan produksi.
“Rupiah yang menembus Rp17.743/USD bukan sekadar angka di layar Bloomberg. Di sentra konveksi Bandung, Solo, dan Tegal itu harga benang naik 15-20 persen,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Dikatakan Nandi, dampak pelemahan rupiah semakin terasa seiring pesanan yang cenderung sepi.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama, dia memprediksi pekerja dari Indistri Kecil Menengah (IKM) terancam dirumahkan.
“IKM Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) menyerap jutaan tenaga kerja. Strukturnya masih import-dependent, sehingga setiap pelemahan rupiah langsung memukul biaya produksi,” ujarnya.
Sementara di sisi lain, pasar domestik dibanjiri barang murah ilegal dari luar negeri lewat e-commerce.
“Dua tekanan ini membuat IKM terjepit dari hulu ke hilir. Kalau dibiarkan, yang terjadi bukan hanya harga baju naik, tapi pabrik kecil tutup dan Pemutus Hubungan Kerja (PHK) massal,” kata Nandi.
Pemerintah melalui Bank Indonesia memang sudah melakukan intervensi pasar dan menurunkan suku bunga untuk jaga stabilitas. Dia menilai, langkah tersebut memang perlu, namun tidak cukup.
IKM, kata dia, butuh langkah konkret untuk menjaga kestabilan pasar.
Menurut Nandi, pertama, pemerintah dapat memperkuat pasokan bahan baku lokal.
“Dorong industri hulu tekstil dalam negeri agar IKM tidak terjebak impor. Subsidi dan insentif untuk pabrik benang/kain lokal harus dipercepat,” tuturnya.
Kedua, fasilitasi ekspor IKM dengan mempermudah akses ke program ekspor, pembiayaan KUR ekspor, dan pendampingan sertifikasi.
“Rupiah lemah bisa menjadi momentum, bukan hanya sekedar ancaman,” imbuhnya.
| Harga Naik Bikin Pedagang Sapi di Pasar Kosambi Bandung Mogok Jualan, Pengamat: Ada Faktor Spekulasi |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.650, Ekonom Unpas Soroti Sektor Belanja Negara yang Boros |
|
|---|
| Pelemahan Rupiah Terasa sampai ke Desa di Cirebon, Petani Pusing Harga Obat Hama Naik 50 Persen |
|
|---|
| Harga Bahan Pokok di Majalengka Melonjak Naik, Cabai dan Bawang Merah Paling Terasa |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.500 dan Diklaim Tak Berdampak ke Desa, Pengamat Beri Warning Keras: Ada Apa? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/usaha-konveksi-solokan.jpg)