Rabu, 20 Mei 2026

Pelemahan Rupiah Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS Pukul Sentra Konfeksi, Harga Benang Naik 20 persen 

Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS memicu kenaikan harga benang sebesar 20 persen di sentra konfeksi domestik.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
lutfi ahmad mauludin/tribun jabar
Usaha konfeksi di Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Minggu (24/9/2023). 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS memicu kenaikan harga benang sebesar 15 hingga 20 persen di sentra konfeksi domestik. 
  • Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menyatakan IKM tekstil kian terjepit akibat pesanan sepi dan serbuan barang murah ilegal di e-commerce. 
  • Pihaknya mendesak pemerintah memperkuat bahan baku lokal, memberi relaksasi fiskal, serta memperketat pasar digital.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anjloknya nilai tukar Rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS memukul sentra konfeksi di tanah air. 

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konfeksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman, mengatakan dampak yang terasa melonjaknya harga benang untuk bahan produksi. 

“Rupiah yang menembus Rp17.743/USD bukan sekadar angka di layar Bloomberg. Di sentra konveksi Bandung, Solo, dan Tegal itu harga benang naik 15-20 persen,” ujarnya, Rabu (20/5/2026). 

Dikatakan Nandi, dampak pelemahan rupiah semakin terasa seiring pesanan yang cenderung sepi. 

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama, dia memprediksi pekerja dari Indistri Kecil Menengah (IKM) terancam dirumahkan.

“IKM Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) menyerap jutaan tenaga kerja. Strukturnya masih import-dependent, sehingga setiap pelemahan rupiah langsung memukul biaya produksi,” ujarnya. 

Sementara di sisi lain, pasar domestik dibanjiri barang murah ilegal dari luar negeri lewat e-commerce. 

“Dua tekanan ini membuat IKM terjepit dari hulu ke hilir. Kalau dibiarkan, yang terjadi bukan hanya harga baju naik, tapi pabrik kecil tutup dan Pemutus Hubungan Kerja (PHK) massal,” kata Nandi. 

Pemerintah melalui Bank Indonesia memang sudah melakukan intervensi pasar dan menurunkan suku bunga untuk jaga stabilitas. Dia menilai, langkah tersebut memang perlu, namun tidak cukup. 

IKM, kata dia, butuh langkah konkret untuk menjaga kestabilan pasar. 

Menurut Nandi, pertama,  pemerintah dapat memperkuat pasokan bahan baku lokal. 

“Dorong industri hulu tekstil dalam negeri agar IKM tidak terjebak impor. Subsidi dan insentif untuk pabrik benang/kain lokal harus dipercepat,” tuturnya. 

Kedua, fasilitasi ekspor IKM dengan mempermudah akses ke program ekspor, pembiayaan KUR ekspor, dan pendampingan sertifikasi. 

“Rupiah lemah bisa menjadi momentum, bukan hanya sekedar ancaman,” imbuhnya. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved