Masih Asing di Tanah Air: Tanpa Regulasi dan Infrastruktur, Inovasi Robot Anak Bangsa Bisa Mati Suri

Tanpa dukungan serius dari negara, inovasi anak bangsa seperti robot humanoid dan robot anjing ini rawan tenggelam dalam senyap.

Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
tribunjabar.id / Nappisah
Robopark kenalkan dua robot canggih kepada pengunjung mall di D'Botanica Mall Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG — KETIKA dua robot hasil karya anak bangsa tampil di hadapan publik dengan kemampuan mendekati kecerdasan manusia, semangat untuk menyambut era robotik nasional sempat membuncah. 

Namun di balik presentasi memukau itu, tersimpan kenyataan pahit: tanpa dukungan serius dari negara, inovasi anak bangsa seperti robot humanoid dan robot anjing ini rawan tenggelam dalam senyap.

Yohanes Kurnia, pendiri Robopark Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar di bidang teknologi robotik. 

Namun sayangnya, kata dia, potensi itu terbentur oleh minimnya infrastruktur, regulasi yang menghambat, dan iklim riset yang tak berpihak pada peneliti lokal.

“Robot kami ini bisa berjalan, berlari, membawa beban, mengenali wajah dan suara, bahkan membaca peta ruangan lewat lidar. Tapi semua itu kami bangun tanpa dukungan penuh dari negara,” ujar Yohanes, saat berbincang dengan Tribunjabar.id, Sabtu (5/7/2025). 

Ia menyebutkan bahwa riset robotik memerlukan ketahanan jangka panjang, dan seharusnya tidak dibiarkan hidup sendirian.

“Kami membangun ini sejak 2015. Tapi tanpa server yang kuat, tanpa infrastruktur data nasional, robot seperti ini hanya akan jadi pajangan sesaat,” tambahnya.

Dalam pengamatannya, negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Singapura sudah sejak lama menjadikan riset robotik sebagai bagian dari kebijakan negara.

“Di sana, setiap peneliti yang membuat teknologi baru langsung dibiayai. Pemerintahnya hadir. Indonesia belum,” ujarnya.

Tak hanya masalah pendanaan, Yohanes juga menyayangkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak memasukkan pelajaran robotika sebagai kurikulum wajib sejak dini.

“Cina sejak tahun 2000 mewajibkan pelajaran robotik. Kita? Bahkan di tingkat SMA pun belum menyentuh itu,” ujarnya.

Karena itulah, Yohanes menyebut bahwa jika tidak ada perbaikan dalam waktu dekat, banyak inovator akan memilih "masuk goa". 

“Kami kembali ke goa riset. Kami akan diam dulu, tidak tampil. Karena tampil di ruang publik tanpa dukungan media, pemerintah, bahkan netizen pun, jika mereka belum siap,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved