D’Botanica Jadi Panggung Unjuk Gigi Robot Humanoid dan K-9 Ciptaan Anak Bangsa

Dua robot canggih hasil riset anak bangsa, Humanoid dan robot dog (K-9), unjuk kemampuan di hadapan publik

Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
nappisah
ROBOT - Dua robot canggih hasil riset anak bangsa, Humanoid dan robot dog (K-9) berinteraksi dengan para pengunjung D’Botanica Mall, Bandung, Jumat (4/7/2025). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG  - Dua robot canggih hasil riset anak bangsa, Humanoid dan robot dog (K-9), unjuk kemampuan di hadapan publik dalam ajang Meet and Greet Robotik di D’Botanica Mall, Bandung, Jumat (4/7/2025). 

Acara ini digelar oleh Robopark Indonesia bersama PT Sari Teknologi sebagai bagian dari edukasi teknologi robotik masa depan.

Puluhan pengunjung, termasuk anak-anak dan keluarga, tampak antusias menyaksikan aksi dua robot yang digerakkan dengan teknologi artificial intelligence (AI). Bahkan, di sela-sela acara robot tersebut berinteraksi dengan para pengunjung. 

Salah satunya adalah robot humanoid, robot berbentuk menyerupai manusia yang mampu membawa beban hingga 20 kilogram, melangkah, jongkok, hingga berlari dengan kecepatan 1,2 meter per detik.

“Robot ini tingginya 130 cm dan bisa menyeimbangkan diri, mengenali wajah, bicara, serta bergerak secara otonom karena sudah dilengkapi lidar, kamera depth cam, hingga speaker dan mikrofon,” jelas Founder Robopark Indonesia, Yohanes Kurnia, saat ditemui seusai acara, Jumat (4/7/2025). 

Selain Humanoid, dipamerkan pula robot dog K-9, atau robot berkaki empat yang meniru anjing. Robot ini mampu melewati medan sempit hingga 30 cm, melompat, serta digunakan untuk pemetaan dan pengintaian.

“Robot K-9 punya sistem gerak kompleks berbasis X dan Y axis, yang memungkinkan gerakan miring dan stabil. Ia juga bisa mengenali wajah dan terhubung dengan pusat data,” tambah Yohanes.

Yohanes mengungkapkan bahwa pengembangan robot-robot ini sudah dimulai sejak 2015.

Setelah satu dekade riset, teknologi ini mulai digunakan di sektor industri seperti Toyota.

Namun, tantangan besar masih menghadang, mulai dari keterbatasan infrastruktur digital, regulasi ekspor-impor suku cadang, hingga minimnya dukungan riset dari negara.

“Kita bukan tidak mampu, tapi tidak ditopang. Riset robotika perlu waktu, dana, dan kecepatan akses. Di luar negeri, seperti Tiongkok dan Jepang, pemerintah hadir penuh. Kita masih jalan sendiri,” jelasnya.

Dia menuturkan, risset robot-robot tersebut tidak dibuat sepenuhnya dari nol, melainkan melalui proses integrasi dan pengembangan mandiri, dengan kolaborasi tim riset dalam negeri dan dukungan teknis dari luar negeri seperti Tiongkok.

“Kami tidak membuat dari scratch, tapi mengembangkan dan menggabungkan teknologi yang sudah ada. Seperti membuat mobil, tidak perlu buat bannya sendiri,” ujar Yohanes.

Proyek ini melibatkan sekitar 25 peneliti, dengan 10 di antaranya aktif penuh waktu. Robopark juga telah bekerja sama dengan perusahaan besar dan asosiasi AI di berbagai negara.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved