Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024
Hari Ke-11: Lhokseumawe, Langsa, Pangkalanbrandan, dan Keanehan tentang Sinyal Internet
Angin memang terasa lebih kencang dan ombak lebih besar sehingga beberapa kali kuda-kuda saya agak goyah.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Anggota Laskar Rempah yang bertugas melayani makan siang ini menawarkan lauk tambahan.
“Mau telur dadar?” tanyanya. Saya tahu telur itu pasti sisa lauk makan pagi yang tidak habis. Tapi bukan masalah, kan?
“Boleh kalau tidak ada yang makan.”
Jadi makan siang kali ini termasuk istimewa.
Setelah makan terdengar pengumuman saatnya salat Zuhur dengan kiblat “hijau 160”, yang berarti 160 derajat ke kanan dari haluan. Dengan kata lain, 20 derajat ke kiri dari buritan. Saya tunaikan salat di lorong di antara tempat tidur Faiz dan tempat tidur Yudhi. Goyangannya terasa lembut.
Pukul satu siang saya naik ke geladak atas, bergabung dengan teman-teman undangan lainnya, untuk turut menyimak materi dari Prof. Ichwan Azhari, antropolog dari Universitas Medan, tentang sejarah kafur, salah satu jenis rempah yang tercantum di Al-Quran. Prof. Ichwan menekankan bahwa yang benar kafur, bukan kapur barus seperti yang disebut banyak orang.
Prof. Ichwan juga menyampaikan sejarah tentang kemenyan, jenis rempah yang menjadi bahan penting parfum-parfum produk Prancis. “Tapi di Jawa menjadi bahan yang mistik,” kata Prof. Ichwan.
Sambil menyimak, saya sempatkan memosting naskah buat Tribunjabar.id dan Facebook, serta tidak lupa mengirim kabar buat orang rumah lewat pesan WhatsApp.
Setelah sesi Prof Ichwan, kami beristirahat dulu. Sebagian peserta, termasuk saya, sempat meluruskan badan telentang di lantai geladak. Mungkin saya sempat terlelap karena beberapa saat kemudian mata terasa segar. Oh, ya, jumlah anggota Laskar Rempah yang hadir di sesi siang ini hanya 20 orang. Lima orang lainnya mengalami sakit dan mabuk. Salah satu di antaranya, Nafas Triwidiawati, bahkan sampai terjatuh di tangga dan muntah-muntah. Semoga mereka lekas pulih.
Sekitar pukul tiga sore sesi diteruskan Hermansyah Yahya, yang menyampaikan materi tentang naskah-naskah lama Aceh, khususnya surat-menyurat antara sultan Aceh dan penguasa mancanegara, yang berisi cerita tentang rempah. Sesi dari Hermansyah selesai hampir pukul lima sore, tapi langit masih terang benderang.
Namun, yang pasti, sinyal sudah dari tadi menghilang, padahal daratan Pulau Sumatra masih terlihat meskipun nyaris hanya berupa garis tipis dan samar.
Selewat pukul 17.00 saya mandi, lalu menunaikan salat Asar dengan arah kiblat yang saya perkirakan masih sama dengan Zuhur jika dilihat dari posisi matahari.
Saya juga menyempatkan diri menulis sebentar sebelum makan sore. Kali ini lauknya ikan tongkol dan tahu. “Ikannya agak keras, ya?” kata salah satu anggota Laskar Rempah dengan suara pelan sambil menutup mulut.
Saat Magrib, yang dilanjutkan dengan Isya secara jamak-qosor seperti biasa dalam perjalanan di laut, saya salat bersebelahan dengan Komandan KRI Dewaruci, Letkol Laut Rhony Lutviadhani. Tapi, meski kami bersalaman, dia tidak mengenali saya karena suasana memang sudah temaram.
Malamnya, saya menulis lagi di lounge, bersama Yudhi dan Dian, tapi kami lebih banyak ngobrol dengan Jessika Nadya. Kami membicarakan berbagai kejadian yang dialami para anggota Laskar Rempah serta pernak-pernik lucu yang kami alami. Jadi, pendeknya, kami lebih banyak tertawa.
| Hari Ke-20: Hari Terakhir Muhibah Budaya Jalur Rempah, Tangis Kembali Tumpah |
|
|---|
| Hari Ke-19: Pagi Terakhir di KRI Dewaruci dan Malam Pembukaan Festival Raja Ali Haji |
|
|---|
| Hari Ke-18: Lego Jangkar di Tanjung Uban, Tangis Peserta Muhibah pada Malam Terakhir di KRI Dewaruci |
|
|---|
| Hari Ke-17: Mencium Udara Hari Terakhir di Malaka dan Melanjutkan Muhibah ke Tanjung Uban |
|
|---|
| Hari Ke-16: Jumpa Sahabat di Malaysia, Kunjungi Masjid Selat Melaka, dan Hadiri Farewell Dinner |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/MBJR-2024_Hari-ke-11.jpg)