Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024
Hari Ke-16: Jumpa Sahabat di Malaysia, Kunjungi Masjid Selat Melaka, dan Hadiri Farewell Dinner
Boleh jadi Masjid Selat Melaka ini mirip Masjid Raya Al-Jabar, tapi bukan dalam hal bentuk dan ukuran, melainkan dalam hal menjadi tujuan wisata.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribunjabar.id Hermawan Aksan
HARI ini, Selasa, 2 Juli 2024, saya tidak ikut bergabung dengan peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 yang dijadwalkan mengunjungi sejumlah tempat bersejarah di Kota Malaka, antara lain Bukit Melaka dan Christ Church Melaka (Gereja Merah).
Alasannya, pertama, saya sudah mengunjungi tempat-tempat itu kemarin. Memang ada beberapa tempat yang belum saya datangi, tapi membayangkan mengunjungi tempat-tempat yang sama terkesan kurang memberikan kegairahan. Lebih-lebih, ketika mengunjungi kawasan Bukit Melaka, saya merasa kelelahan, jadi saya tidak mau merasakan kelelahan untuk kali yang kedua.
Kedua, sejak kemarin, kalaupun mau jalan-jalan, saya ingin melakukannya sendirian. Karena itu, sementara yang lain berangkat, saya memutuskan tinggal sendiri di hotel. Yudhi dan lain-lain dari media juga memutuskan mengunjungi tempat-tempat yang berbeda daripada tempat-tempat yang dijadwalkan panitia.
Ketiga, alasan lain mengapa saya tidak bergabung dengan mereka, seorang teman di Malaysia mengabarkan ingin bertemu dengan saya. Namanya Pia, yang saya kenal di sebuah komunitas penulisan daring. Sebenarnya, tadi malam dia mengabarkan sudah sampai di Imperial Heritage Hotel, tapi pada saat pesannya masuk, saya dan rombongan media sudah berangkat ke Casa del Rio untuk acara welcoming dinner.
Siang ini Pia benar-benar datang, berdua dengan suaminya, sekitar pukul 12.15 waktu Malaka. Mereka adalah pasangan yang baru menikah belum setahun lalu. Oh, ya, Pia berasal dari Kendal, Jawa Tengah, sedangkan suaminya, Ilyas, berasal dari Lhokseumawe, Aceh. Mereka bekerja di daerah Skudai, yang menurut dia sekitar lima jam perjalanan naik bus ke Malaka. Pia mengaku sedang hamil empat bulan dan sedang rakus-rakusnya makan.
Mereka datang di lobi Imperial Heritage Hotel dengan berjalan kaki dari sebuah hotel tempat mereka menginap tadi malam.
Pia menawarkan sejumlah tempat untuk dikunjungi.
“Aku tidak tahu banyak soal tempat-tempat itu,” kata saya.
Dia menyebutkan tempat-tempat macam Gereja Merah dan saya menolaknya karena sudah mengunjunginya. Dia kemudian mengajak ke Masjid Selat Melaka, sebuah masjid yang letaknya di tepi laut.
“Oke, yang itu kayaknya menarik.”
Pia memesan taksi online dan kami melaju di jalanan Kota Malaka yang lalu lintasnya lancar sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana, hanya 15 atau 20 menit. Kami tiba sekitar setengah jam sebelum saat Zuhur tiba. Jadi, kami bisa berfoto-foto lebih dulu sebelum ikut salat berjemaah.
Tidak hanya dari sisi depan (utara) masjid, kami juga mengambil gambar dari sisi timur, dengan latar belakang laut. Sayangnya, air laut sedang surut.
“Kalau air laut naik, masjid ini akan kelihatan mengapung,” kata Pia.
Masjid Selat Melaka terletak di Kampung Bandar Hilir Melaka, berhampiran dengan Bandaraya Melaka. Masjid ini diresmikan pada 24 November 2006 oleh Yang di-Pertuan Agong Tuanku Syed Sirajuddin Syed Putra Jamalullail.
| Hari Ke-20: Hari Terakhir Muhibah Budaya Jalur Rempah, Tangis Kembali Tumpah |
|
|---|
| Hari Ke-19: Pagi Terakhir di KRI Dewaruci dan Malam Pembukaan Festival Raja Ali Haji |
|
|---|
| Hari Ke-18: Lego Jangkar di Tanjung Uban, Tangis Peserta Muhibah pada Malam Terakhir di KRI Dewaruci |
|
|---|
| Hari Ke-17: Mencium Udara Hari Terakhir di Malaka dan Melanjutkan Muhibah ke Tanjung Uban |
|
|---|
| Hari Ke-15: Bermula dari Kampung Jawa, Lalu Pameran Hang Tuah, dan Berakhir di Tempat Laundry |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/MBJR_Hari-ke-16.jpg)