Update Kasus Riki Sumedang, Polisi Buru Mobil Grand Max Bertuliskan ODGJ

Pria berkebutuhan khusus itu diduga sengaja dibuang di kawasan Dano, Sumedang Utara

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Ravianto
Istimewa
Kondisi Riki (35) sebelum ditemukan meninggal di area warung nasi, di sekitar Dano, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Rabu (29/3/2023) sekira pukul 15.00 

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sumedang masih terus melakukan penyelidikan kasus kematian Riki Nugraha (35), penghuni panti milik Yayasan Abadi Bina Mentari di Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang.

Pria berkebutuhan khusus itu diduga sengaja dibuang di kawasan Dano, Sumedang Utara, hingga akhirnya meninggal beberapa hari kemudian.

Pihak yayasan menyebut, Riki tidak dibuang, melainkan kabur dari Panti.

Dugaan bahwa Riki sengaja dibuang merebak menyusul pengakuan saksi mata yang mengaku sempat melihat Riki diturunkan seseorang dari mobil Daihatsu Grand Max bertuliskan ODGJ, Selasa (28/3) malam di dekat jembatan Dano.

Namun, saksi mengaku tak tahu siapa yang menurunkan Riki dari mobil.

Begitu pula alasan orang tersebut menurunkan Riki di sana.

Rizni Amalia (41) saksi mata sekaligus pemilik warung yang mengurus Riki pasca-dibuang saat diwawancara TribunJabar.id, Minggu (9/4/2023).
Rizni Amalia (41) saksi mata sekaligus pemilik warung yang mengurus Riki pasca-dibuang saat diwawancara TribunJabar.id, Minggu (9/4/2023). (Tribun Jabar/ Kiki Andriana)

Kasat Reskrim Polres Sumedang, Iptu Maulana Yusuf, mengatakan sejauh ini polisi masih mengumpulkan bukti-bukti sekaligus menyisir keterangan dari saksi di lapangan.

"Kami juga tengah memburu mobil yang [oleh saksi mana] diduga digunakan [untuk membuang Riki]," kata Maulana, Selasa (11/4). 

Namun, Maulana masih belum bersedia mengungkap sejauh mana hasil penelusuran tersebut secara lebih detail.

Riki ditemukan meninggal di rumah kosong di kawasan Dano, Senin (3/4) dini hari oleh warga setempat yang saat itu hendak memberinya makan.

Riki dibawa ke panti oleh para tetangganya di Puskopad, Desa Gunung Manik, Kecamatan Tanjungsari, tiga bulan lalu setelah neneknya meninggal dunia.

Warga di Puskopad bahkan iuran untuk membayar biaya bulanan perawatan Riki di panti.

Pada bulan pertama dan kedua warga membayar Tp 1 juta setiap bulannya.

Namun, pada bulan ketiga naik menjadi Rp 1,5 juta.

Ketua Yayasan Abadi Bina Mentari, Dera Renda Nurherdarsyah, mengatakan Riki kabur dari panti yang mereka kelola bersama seorang penghuni panti lainnya yang berasal dari Subang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved