Gempa Bumi di Cianjur

Cerita Warga Lihat Lereng Gunung Pangrango Longsor, Satu Kampung Tak Ada yang Terluka

Tidak ada korban jiwa maupun luka di kampung ini. Kerusakan rumah pun hanya rusak ringan sampai sedang saat gempa terjadi.

Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Ravianto
Tribun Jabar/Ferri Amiril Mukminin
Tenda pengungsi di kaki Gunung Gede Pangrango dihuni warga Kampung Pasirmalang, Desa Galudra, Kecamatan Cugenang, Cianjur. 

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - KAMPUNG Pasir Malang terletak paling ujung dari Desa Galudra, dan termasuk wilayah yang hingga saat ini hanya bisa ditempuh berjalan kaki atau menggunakan roda dua.

Jarak 1,5 kilometer jalan setapak ekstrem melewati lembah dan bukit menjadi akses masuk ke Kampung Pasir Malang yang merupakan titik tertinggi di Kecamatan Cugenang.

Akses tersebut hanya bisa dilewati dari jalan Desa Galudra.

Penduduknya satu RT berjumlah 750 jiwa. Mata pencaharian penduduk berkebun sayuran hortikultura. Lokasi rumahnya berdempetan dengan gang kecil.

Ada 31 tenda pengungsi gempa Cianjur di kampung ini dengan satu tenda agak besar yang digunakan untuk posko logistik, siang hari dan malam hari digunakan anak-anak untuk mengaji.

Tidak ada korban jiwa maupun luka di kampung ini. Kerusakan rumah pun hanya rusak ringan sampai sedang saat gempa terjadi.

Tim SAR gabungan mencari korban yang tertimbun longsor akibat gempa di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu (27/11/2022). Tim SAR gabungan kembali menemukan tiga korban sehingga menjadi 321 korban meninggal dan 11 orang belum ditemukan.
Tim SAR gabungan mencari korban yang tertimbun longsor akibat gempa di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu (27/11/2022). Tim SAR gabungan kembali menemukan tiga korban sehingga menjadi 321 korban meninggal dan 11 orang belum ditemukan. (alex suban/tribunnews depok)

Padahal sudah jarang sekali rumah kayu dan bambu di kampung ini.

Namun, akses jalan menuju kampung tersebut yang hanya jalan setapak, sempat tertutup longsoran tebing dan rumpun bambu.

Alhasil selama dua hari warga pun sempat mengalami kekurangan logistik karena belum ada bantuan yang bisa masuk.

Baca juga: Pemkab Cianjur Targetkan Rumah Korban Gempa Selesai Dibangun Akhir Desember, Januari Bisa Ditinggali

Cerita satu bungkus mi instan dibagi untuk dua keluarga pun kembali dibuka warga.

Tak hanya itu, satu keluarga juga dibagi beras satu gelas setiap harinya. Bantuan baru masuk di hari keempat setelah warga swadaya bergotong-royong menyingkirkan material longsoran.

"Tenda darurat pun dibuat dari plastik persemaian sayuran di hari pertama," ujar Muksin (36) tokoh masyarakat Kampung Pasir Malang, ditemui Rabu (30/11/2022) sore.

Muksin mengatakan, satu bungkus mi dibagi untuk dua keluarga disiasati warga dengan menambah air yang banyak dan sayuran agar cukup untuk dua keluarga.

"Kebetulan saat gempa terjadi warga masih mempunyai stok sayuran hingga satu bungkus mi itu dimasak dengan air banyak dibanyakin sayuran dan lainnya agar cukup," ujar Muksin.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved