Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Dukungan Digitalisasi Pendidikan bagi Dunia Industri di Indonesia

Di bidang pembangunan pendidikan, Indonesia saat ini beruntung karena memiliki Menristekdibud yang latarbelakangnya tidak lepas dari bidang teknologi

Tayang:
Editor: Kisdiantoro
HO PEXELS
Illustrasi. Perkembangan teknologi yang semakin pesat memudahkan untuk dunia pendidikan. 

Oleh: Yon Daryono, M.Sos

Digitalisasi di segala bidang, bak tumbuhnya jamur di musim penghujan. Hampir seluruh sektor tidak bisa mengelak dan melawan arus deras perkembangan teknologi informasi berupa internet.  

Khusus perkembangan internet dan pendidikan, Indonesia menjadi negara yang memiliki fenomena tersendiri dengan jumlah penduduk terbesar kempat di dunia setelah RRC, Amerika Serikat, India.

Berdasarkan lembaga DataReportal, jumlah perangkat seluler yang terkoneksi internet di Indonesia, hingga bulan Januari 2022 mencapai 370,1 juta. Angka ini memperkuat data lain yang dipublish GSMA Intelligence dimana jumlah total penduduk di Indonesia hingga Januari 2022 sebanyak 277,7 juta jiwa. (suara.com, 21 Februari 2022).

Mengacu pada komparasi data di atas, kita temukan ternyata jumlah perangkat seluler lebih banyak jumlahnya dari penduduk di Indonesia. Sementara lembaga GSMA Intelligence menyebutkan perangkat seluler di Indonesia setara dengan 133,3 persen dari total populasi yang ada.

Baca juga: Farhan Sebut Peralihan TV Analog ke TV Digital Tak Bisa Dihindari

Digitalisasi pembelajaran

Di bidang pembangunan pendidikan, Indonesia saat ini beruntung karena memiliki Menristekdibud yang latarbelakangnya tidak lepas dari bidang teknologi informasi dan digitaliasi.

Menristekdikbud, Nadiem Makarim sebelum menjadi menteri dikenal sebagai founder layanan berbasis aplikasi (GoJek). Bahkan startup lokal asli Indonesia ini terbukti mampu menjadi startup yang diperhitungkan di Indonesia.

Manakala pandemi covid 19 meledak hampir seluruh dunia paruh 2020-2021, sektor pendidikan pun terdampak. Aktivitas belajar mengajar yang selama ini dilakukan dengan konvensional berubah menjadi kebijakan daring. Adaptasi terhadap situasi pembelajaran yang berbasis teknologi menjadi sebuah keniscayaan yang harus dihadapi.

Negara di seluruh dunia pun tidak pernah membayangkan, bahwa pada akhirnya seluruh lini pendidikan bisa dan terbiasa dengan pembelajaran daring. Meski bagi sebagian kalangan, menilai, masih ada unsur plus dan minus menggunakan pola pengajaran berbasis teknologi digital.

Baca juga: Teknologi Ini Bisa Jaga Kesegaran Sayuran dan Buah Agar Kandungan Nutrisi Tetap Terjaga

Hampir dua tahun lamanya pelajar, mahasiswa, serta akademisi di Indonesia makin terbiasa dengan pembelajaran dam riset berbasis teknologi. Diantaranya menggunakan aplikasi pembelajaran zoom meeting maupun google meet. Bahkan dalam perkembangnnya, materi dan ujian dikonversi ke dalam platform google form, atau basis platform internet lainnya.

Plus minus

Dalam kegiatan 13th Annual International Symposium of Foreign Language Learning yang digelar 27-28 Oktober 2022 dan diikuti oleh 20 negara termasuk Indonesia, dibahas pengaruh besar pandemi covid 19 dalam sektor pendidikan. Nithiananthini Kumarawel dari perwakilan peserta, SEAMEO Secretariat menyatakan pandemi covid 19 memaksa institusi pendidikan melakukan pembelajaran jarak jauh. Efek yang paling terasa adalah hilangnya tingkat pembelajaran yang kian meningkat. Untuk itu diperlukan inovasi-inovasi baru dalam pengajaran. (Website kemendikbudristek, 1 November 2022)

Kegelisahan di seluruh dunia terkait dampak pandemi covid 19 sudah diantisipasi Kemendikbudristek. Tantangan pembelajaran yang dihadapi akibat pandemi covid 19, masyarakat dunia harus beradaptasi dengan masif memanfaatkan informasi digital dalam keseharian.

Hal itu terungkap dalam Silaturahmi Merdeka Belajar (SMB): Ekosistem Teknologi untuk Akselerasi Pendidikan di Indonesia pada 11 Agustus 2022.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved