Rabu, 27 Mei 2026

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Hukum Chekov

Jika aku bercita-cita memiliki pistol, pistol itu harus aku gunakan. Chekov mengatakan, bila pistol tak digunakan, sebaiknya pistol tak dimunculkan.

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
tribunmanado.co.id
ilustrasi pistol 

Oleh Kiki Sulistyo

Jika aku bercita-cita memiliki pistol, pistol itu harus aku gunakan. Chekov mengatakan, bila pistol tak digunakan, sebaiknya pistol tak dimunculkan. Mungkin sutradara akan bertanya kenapa tak kuganti saja pistol dengan pisau, misalnya, atau palu, atau arit. Untuk itu aku sudah punya jawaban: Chekov menyebut pistol, bukan pisau, palu, atau arit.

Aku sendiri bertanya-tanya kenapa Chekov menyebut pistol dan bukan yang lainnya. Kalau bisa aku ingin bertanya langsung kepadanya. Tetapi Chekov sudah mati, terkena tuberkolosis, sedang tidak satu pun orang yang pernah bertanya hal yang sama. Mungkin sutradara akan kembali bertanya kenapa aku menjadikan Chekov sebagai patokan. Untuk pertanyaan itu aku juga sudah punya jawaban: karena kau menyukai Chekov.

Aku ingat dalam suatu latihan menjelang pertunjukan sandiwara di mana aku dan kau menjadi pemainnya, kau bilang bahwa Chekov telah membuatmu sanggup melihat manusia seakan-akan mata dan mata batinmu dilengkapi mikroskop. Aku sendiri pernah membaca beberapa buku Chekov meski tak sebanyak yang kaubaca, dan menurutku Chekov tak lebih dari seseorang yang memiliki banyak waktu dan itu dimungkinkan karena dia adalah seorang borjuis.

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Didagoan Tepika Jam 12 Peuting

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Gadis Penjaga dan Pria Berjanggut

Aku juga seorang borjuis, karena itu aku tak menyukaimu. Menurutku, meski kau berasal dari keluarga buruh-tani di dalam dirimu tersimpan semangat individual, bukan semangat proletarian. Kau sangat mementingkan dirimu sendiri, kau mendesak semua orang ke pinggir agar kau bisa tampil di tengah sekaligus di posisi paling depan.

Sutradara barangkali akan kembali bertanya apa untungnya kau menyingkirkan semua orang. Untuk pertanyaan itu aku akan biarkan kau yang menjawab, tapi karena aku yakin kau tidak akan menjawab, biarkan aku yang menjawab untukmu.

“Dia mau menyingkirkan semua orang karena sewaktu kecil dia sering disingkirkan oleh semua orang.”

“Kenapa semua orang menyingkirkannya?”

“Sebab tak seorang pun menyukainya.”

“Karena?”

“Karena dia selalu mau menyingkirkan semua orang.”

Jawaban itu memang berputar-putar, tapi itulah kenyataannya. Kau tak mungkin membantahku karena kau sebenarnya sudah tahu dari mana aku tahu semua itu; sebab aku tahu kau mau menyingkirkanku. Harus kuakui kau pemain sandiwara yang jempolan, untuk itu setiap orang harus menghormatimu. Tapi pemain sandiwara yang jempolan adalah musuh pemain sandiwara jempolan lainnya. Aku juga pemain sandiwara yang jempolan, bedanya aku seorang borjuis yang mendukung perjuangan kaum proletar, sementara kau seorang proletar yang mengamalkan cara hidup borjuis.

Di titik ini sutradara kemungkinan besar akan mengerutkan kening lebih dalam dan bertanya-tanya lebih banyak lagi apa hubungannya ideologi-ideologi itu dengan semua yang sudah aku katakan. Untuk itu, aku takkan menjawab atau kalaupun menjawab aku akan bilang bahwa kita semua berasal dari leluhur budak yang selamat berkat Karl Marx. Jika sutradara tambah bingung dan terus mendesakku untuk menjelaskan dengan lebih logis, aku berjanji padamu untuk mengarahkan pistol ke kepalanya.

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Berai Bianglala

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Ritual Calon Pengantin

Waktu kau bilang kalau kau ingin memiliki pistol, aku kutip hukum Chekov sebagai cara lain untuk bertanya. Kau tak menjawabku. Sejak itu aku selalu penasaran apakah kau sudah mendapatkan pistolmu. Setiap kali latihan aku selalu memiliki dorongan untuk memperhatikanmu dengan lebih teliti: memperhatikan saku celanamu, kantong jaketmu, atau tas jinjingmu. Aku merasa sejak kau punya cita-cita memiliki pistol, kau tampak lebih berbahaya.

Kukira semenjak merasa kau lebih berbahaya aku jadi punya cita-cita yang sama. Bedanya, kalau kau menceritakan cita-citamu kepadaku, aku menceritakan cita-citaku kepada sutradara. Aku tidak menceritakan kepada sutradara bahwa kau punya cita-cita yang sama, mungkin karena itulah dia tidak terkejut. Hanya saja, pada akhirnya dia tetap bertanya kepada apa atau kepada siapa pistol itu akan aku gunakan.

Pertanyaan itu membuat aku teringat pada Hukum Chekov sekaligus teringat kepadamu dan pada saat itulah tebersit cita-citaku yang lain, yakni mengarahkan pistol ke kepalamu. Pada mulanya aku tak berpikir soal itu, pada mulanya pistol muncul dalam cita-citaku karena pistol muncul dalam cita-citamu. Dan di antara dua cita-cita kembar itu ada yang akan saling menyingkirkan sebab masing-masing menganggap yang lain tampak lebih berbahaya.

Seorang siswa di SMA Edouard-Branly, Creteil, Perancis, terekam sedang menodongkan pistol yang diklaimnya palsu ke kepala gurunya.
Seorang siswa di SMA Edouard-Branly, Creteil, Prancis, terekam sedang menodongkan pistol yang diklaimnya palsu ke kepala gurunya. (Metro.co.uk)

Tapi benarkah kau menganggap aku tampak lebih berbahaya? Bukankah aku tak pernah menceritakan kepadamu cita-citaku memiliki pistol? Di titik ini aku baru menyadari bahwa sebelum kau menceritakan cita-citamu aku sering melihatmu memperhatikanku dengan lebih teliti: memperhatikan saku celanaku, kantong jaketku, atau tas jinjingku.

Aku tahu kau hendak menyingkirkanku dan karena makin lama aku makin yakin soal itu, aku juga yakin bahwa kau berniat menyingkirkan semua orang. Keyakinan itu tidak aku ceritakan kepada siapa-siapa, sampai sutradara berkata kepadamu bahwa dia bercita-cita memiliki sebuah pistol. Aku mendengar sutradara berkata begitu kepadamu ketika pada sesi pertama latihan dia berbincang-bincang denganmu. Dia juga bilang bahwa dia adalah seorang penggemar Chekov dan aku ingat saat itu kau berkomentar bahwa bagimu Chekov tak lebih dari seseorang yang memiliki banyak waktu dan itu dimungkinkan karena dia adalah seorang borjuis.

Saat itu aku mencoba mengingat-ingat apakah komentarmu itu pernah kudengar sebelumnya. Tapi aku gagal memastikannya. Seandainya aku bertanya kepada sutradara pertanyaan yang sama, aku kira dia juga akan gagal, sebab sebelumnya sutradara belum pernah berbicara denganku. Itu situasi yang sulit dipahami dan semakin sulit dipahami ketika beberapa waktu setelah percakapanmu itu kau berkata kepadaku bahwa sutradara bercita-cita memiliki pistol dan akan mengarahkannya kepadamu. Kau juga bilang bahwa kau akan memperhatikannya dengan lebih teliti.

Aku kira itulah yang membuatmu juga bercita-cita memiliki pistol.

Ketika timbul niatku untuk menceritakan cita-citamu memiliki pistol kepada sutradara, dia sudah lebih dulu menceritakan hal yang sama. Menurutnya, kalau kau punya pistol, kau akan mengarahkan pistol itu kepadanya sebab kau mengira dia berniat menyingkirkan semua orang. Aku tidak sepakat dengan pendapatnya. Menurutku, jika kau punya pistol, kau akan mengarahkannya kepadaku. Dia membantah pendapatku dengan mengandaikan dirinya sebagai diriku dan mengandaikan dirimu sebagai dirinya.

Pengandaian itu membingungkanku dan ketika kuceritakan semua itu kepadamu kau malah memintaku melaksanakan pengandaian itu lalu mengandaikan dirimu sebagai diriku dan dirinya sebagai dirimu. Lalu kau bertanya apakah aku melihat sesuatu yang berbeda. Aku bilang tidak. Bukan karena aku memang betul-betul tidak melihat ada perbedaan, melainkan karena aku tidak tahu untuk apa semua pengandaian itu, bahkan lebih jauh lagi tidak tahu bagaimana mengandaikannya. Jika pengandaian itu betul-betul dimungkinkan, maka pengandaian itu harus mencakup pertukaran semua hal yang sebelumnya sudah ditetapkan: plot, alur, latar belakang, ideologi tokoh, dan sebagainya, yang artinya semua harus dimulai dari awal dengan semua kemungkinan kombinasinya.

 Jika begitu, siapakah yang pertama-tama bercita-cita memiliki pistol? Aku yakin baik kau maupun sutradara akan menyingkirkan semua orang dan menjawab, “Aku!”

Mataram, 6 Februari 2021

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya berjudul Belfegor dan Para Penambang (Basabasi, 2017).

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved