Cerita Pendek
Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Hukum Chekov
Jika aku bercita-cita memiliki pistol, pistol itu harus aku gunakan. Chekov mengatakan, bila pistol tak digunakan, sebaiknya pistol tak dimunculkan.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Pertanyaan itu membuat aku teringat pada Hukum Chekov sekaligus teringat kepadamu dan pada saat itulah tebersit cita-citaku yang lain, yakni mengarahkan pistol ke kepalamu. Pada mulanya aku tak berpikir soal itu, pada mulanya pistol muncul dalam cita-citaku karena pistol muncul dalam cita-citamu. Dan di antara dua cita-cita kembar itu ada yang akan saling menyingkirkan sebab masing-masing menganggap yang lain tampak lebih berbahaya.
Tapi benarkah kau menganggap aku tampak lebih berbahaya? Bukankah aku tak pernah menceritakan kepadamu cita-citaku memiliki pistol? Di titik ini aku baru menyadari bahwa sebelum kau menceritakan cita-citamu aku sering melihatmu memperhatikanku dengan lebih teliti: memperhatikan saku celanaku, kantong jaketku, atau tas jinjingku.
Aku tahu kau hendak menyingkirkanku dan karena makin lama aku makin yakin soal itu, aku juga yakin bahwa kau berniat menyingkirkan semua orang. Keyakinan itu tidak aku ceritakan kepada siapa-siapa, sampai sutradara berkata kepadamu bahwa dia bercita-cita memiliki sebuah pistol. Aku mendengar sutradara berkata begitu kepadamu ketika pada sesi pertama latihan dia berbincang-bincang denganmu. Dia juga bilang bahwa dia adalah seorang penggemar Chekov dan aku ingat saat itu kau berkomentar bahwa bagimu Chekov tak lebih dari seseorang yang memiliki banyak waktu dan itu dimungkinkan karena dia adalah seorang borjuis.
Saat itu aku mencoba mengingat-ingat apakah komentarmu itu pernah kudengar sebelumnya. Tapi aku gagal memastikannya. Seandainya aku bertanya kepada sutradara pertanyaan yang sama, aku kira dia juga akan gagal, sebab sebelumnya sutradara belum pernah berbicara denganku. Itu situasi yang sulit dipahami dan semakin sulit dipahami ketika beberapa waktu setelah percakapanmu itu kau berkata kepadaku bahwa sutradara bercita-cita memiliki pistol dan akan mengarahkannya kepadamu. Kau juga bilang bahwa kau akan memperhatikannya dengan lebih teliti.
Aku kira itulah yang membuatmu juga bercita-cita memiliki pistol.
Ketika timbul niatku untuk menceritakan cita-citamu memiliki pistol kepada sutradara, dia sudah lebih dulu menceritakan hal yang sama. Menurutnya, kalau kau punya pistol, kau akan mengarahkan pistol itu kepadanya sebab kau mengira dia berniat menyingkirkan semua orang. Aku tidak sepakat dengan pendapatnya. Menurutku, jika kau punya pistol, kau akan mengarahkannya kepadaku. Dia membantah pendapatku dengan mengandaikan dirinya sebagai diriku dan mengandaikan dirimu sebagai dirinya.
Pengandaian itu membingungkanku dan ketika kuceritakan semua itu kepadamu kau malah memintaku melaksanakan pengandaian itu lalu mengandaikan dirimu sebagai diriku dan dirinya sebagai dirimu. Lalu kau bertanya apakah aku melihat sesuatu yang berbeda. Aku bilang tidak. Bukan karena aku memang betul-betul tidak melihat ada perbedaan, melainkan karena aku tidak tahu untuk apa semua pengandaian itu, bahkan lebih jauh lagi tidak tahu bagaimana mengandaikannya. Jika pengandaian itu betul-betul dimungkinkan, maka pengandaian itu harus mencakup pertukaran semua hal yang sebelumnya sudah ditetapkan: plot, alur, latar belakang, ideologi tokoh, dan sebagainya, yang artinya semua harus dimulai dari awal dengan semua kemungkinan kombinasinya.
Jika begitu, siapakah yang pertama-tama bercita-cita memiliki pistol? Aku yakin baik kau maupun sutradara akan menyingkirkan semua orang dan menjawab, “Aku!”
Mataram, 6 Februari 2021
Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya berjudul Belfegor dan Para Penambang (Basabasi, 2017).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-pistol_20180526_115957.jpg)