Coffee Break
Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Lawan Terus Rasialisme
SEORANG teman asal Jawa Tengah yang pernah bertugas di Jayapura, Papua, menuturkan sekelumit kisah berikut ini.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Menurut KBBI, rasialis diartikan sebagai “yang mempertahankan perbedaan (dalam politik, sosial, ekonomi) ras, suku, bangsa, hak suku-suku bangsa; orang yang menganut paham rasialisme.”
Rasialisme, menurut sosiolog UNS Drajat Tri Kartono, terbentuk karena proses konstruksi politik dan akhirnya menjadi ideologi.
Basis kepercayaannya adalah bahwa satu ras atau satu ciri biologis tertentu memiliki kelebihan daripada ciri biologis lain.
Umumnya kasus rasialisme, misalnya kematian George Floyd di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, berlandaskan pada persepsi orang kulit putih bahwa mereka lebih unggul daripada orang kulit hitam.
Menurut Drajat, di masyarakat Amerika, orang kulit hitam cenderung mendapat label negatif.
Mereka kerap dianggap bodoh dan dikaitkan dengan peredaran narkoba serta terlibat dunia kriminal. Penilaian-penilaian itulah yang meletakkan orang kulit putih menjadi tinggi.
Di lapangan hijau, kasus-kasus rasialis boleh dikatakan tak pernah hilang.
Di liga-liga Eropa, banyak sekali bintang yang menjadi sasaran. Sebut saja Mario Balotelli, Samuel Eto’o, Thierry Henry, Romelu Lukaku, dan Mesut Oezil—tidak semuanya berkulit hitam.
Namun, mereka selalu tangguh meskipun tiap saat menjadi sasaran tindakan rasialis dari penonton.
Cara mereka merespons tindakan penonton pun mengagumkan.
Eto’o, misalnya, pernah mengatakan, “Saya adalah orang yang berkulit hitam dan jika seseorang membayar tiket cuma untuk mengejek saya seperti monyet, maka saya akan bertindak seperti monyet.”
Patrich Wanggai, korban rasialisme oknum warganet setelah laga PSM vs Persija, juga bersikap profesional dan menanggapi tindakan rasialis itu dengan tegar.
Ia kemudian mendapat banyak dukungan dari warganet lainnya.
Kita, orang-orang waras, memang harus terus melawan rasialisme. (*)