Breaking News:

Coffee Break

Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Lawan Terus Rasialisme

SEORANG teman asal Jawa Tengah yang pernah bertugas di Jayapura, Papua, menuturkan sekelumit kisah berikut ini.

Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Lawan Terus Rasialisme
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

“Apa bedanya?”

“Kau hitam biasa, aku hitam metalik.”

Baca juga: Belum Juga Kembalikan Aset Rizky Febian, Teddy Pardiyana Akhirnya Dilaporkan ke Polisi

Baca juga: Sinyal Kuat Farshad Noor Dimainkan di Laga Persib Bandung vs Persita Tangerang, Ezra Walian?

Apakah penonton yang meneriaki pemain Afrika dan orang yang meneriaki Mamat Alkatiri tergolong rasis?

Tidak mudah menyimpulkannya. Perlu dicermati latar belakangnya, apakah memang bermaksud melecehkan atau sekadar bercanda.

Ngomong-ngomong, agak aneh juga KBBI tidak menampung kata rasis dan rasisme. Di KBBI kata rasis diberi tanda panah ke kata rasialis, yang bermakna bahwa kata yang baku adalah rasialis, bukan rasis.

Menurut KBBI, rasialis diartikan sebagai “yang mempertahankan perbedaan (dalam politik, sosial, ekonomi) ras, suku, bangsa, hak suku-suku bangsa; orang yang menganut paham rasialisme.”

Rasialisme, menurut sosiolog UNS Drajat Tri Kartono, terbentuk karena proses konstruksi politik dan akhirnya menjadi ideologi.

Basis kepercayaannya adalah bahwa satu ras atau satu ciri biologis tertentu memiliki kelebihan daripada ciri biologis lain.

Umumnya kasus rasialisme, misalnya kematian George Floyd di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, berlandaskan pada persepsi orang kulit putih bahwa mereka lebih unggul daripada orang kulit hitam.

Menurut Drajat, di masyarakat Amerika, orang kulit hitam cenderung mendapat label negatif.

Halaman
123
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved