Coffee Break
Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Lawan Terus Rasialisme
SEORANG teman asal Jawa Tengah yang pernah bertugas di Jayapura, Papua, menuturkan sekelumit kisah berikut ini.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Oleh Hermawan Aksan
SEORANG teman asal Jawa Tengah yang pernah bertugas di Jayapura, Papua, menuturkan sekelumit kisah berikut ini.
Suatu hari ia menonton pertandingan sepak bola di Stadion Mandala, yang mempertemukan Persipura dengan sebuah klub yang salah satu pemainnya berkulit hitam asal Afrika.
Jika si pemain Afrika itu sedang membawa bola, sejumlah penonton meneriakkan kata “Hitam, hitam!”
Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Laki-Laki Bermata Tajam
Baca juga: Sinopsis IKATAN CINTA 28 Maret 2021 Link Streaming - Nino Temukan Fakta Soal Anting, Elsa Gelisah
Mendengar teriakan itu teman saya kaget sekaligus geli. Namun, ia menahan diri dari keinginan untuk tertawa. Ia hanya bisa membatin: bukankah orang Papua dikenal juga berkulit hitam, setidaknya di Indonesia? Bukankah Perspura sendiri memiliki julukan “Mutiara Hitam”?
Teman saya memiliki dua dugaan. Pertama, orang-orang Papua itu sedang meledek si pemain Afrika sekaligus meledek diri mereka sendiri. Kedua, kalau dibandingkan, kulit pemain Afrika itu memang lebih gelap daripada rata-rata kulit orang Papua. Jadi, orang Papua itu tidak merasa hitam jika dibandingkan dengan orang Afrika.
Komedian Mohammed Yusran Alkatiri, atau yang lebih dikenal dengan nama Mamat Alkatiri, dalam sebuah acara bincang-bincang tentang rasialisme di televisi, Jumat malam kemarin, menceritakan satu pengalamannya di Papua juga.
Suatu hari ketika sedang berjalan-jalan, ia dipanggil oleh seseorang seperti ini, “Hei, Mamat hitam!”
Mamat tidak mengacuhkannya dan terus berjalan. Tapi panggilan itu diserukan berkali-kali, sampai kemudian Mamat berhenti dan berbalik. “Kita sama-sama hitam. Kenapa kau memanggilku hitam?”
“Karena hitam kita berbeda.”
“Apa bedanya?”
“Kau hitam biasa, aku hitam metalik.”
Baca juga: Belum Juga Kembalikan Aset Rizky Febian, Teddy Pardiyana Akhirnya Dilaporkan ke Polisi
Baca juga: Sinyal Kuat Farshad Noor Dimainkan di Laga Persib Bandung vs Persita Tangerang, Ezra Walian?
Apakah penonton yang meneriaki pemain Afrika dan orang yang meneriaki Mamat Alkatiri tergolong rasis?
Tidak mudah menyimpulkannya. Perlu dicermati latar belakangnya, apakah memang bermaksud melecehkan atau sekadar bercanda.
Ngomong-ngomong, agak aneh juga KBBI tidak menampung kata rasis dan rasisme. Di KBBI kata rasis diberi tanda panah ke kata rasialis, yang bermakna bahwa kata yang baku adalah rasialis, bukan rasis.
Menurut KBBI, rasialis diartikan sebagai “yang mempertahankan perbedaan (dalam politik, sosial, ekonomi) ras, suku, bangsa, hak suku-suku bangsa; orang yang menganut paham rasialisme.”
Rasialisme, menurut sosiolog UNS Drajat Tri Kartono, terbentuk karena proses konstruksi politik dan akhirnya menjadi ideologi.
Basis kepercayaannya adalah bahwa satu ras atau satu ciri biologis tertentu memiliki kelebihan daripada ciri biologis lain.
Umumnya kasus rasialisme, misalnya kematian George Floyd di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, berlandaskan pada persepsi orang kulit putih bahwa mereka lebih unggul daripada orang kulit hitam.
Menurut Drajat, di masyarakat Amerika, orang kulit hitam cenderung mendapat label negatif.
Mereka kerap dianggap bodoh dan dikaitkan dengan peredaran narkoba serta terlibat dunia kriminal. Penilaian-penilaian itulah yang meletakkan orang kulit putih menjadi tinggi.
Di lapangan hijau, kasus-kasus rasialis boleh dikatakan tak pernah hilang.
Di liga-liga Eropa, banyak sekali bintang yang menjadi sasaran. Sebut saja Mario Balotelli, Samuel Eto’o, Thierry Henry, Romelu Lukaku, dan Mesut Oezil—tidak semuanya berkulit hitam.
Namun, mereka selalu tangguh meskipun tiap saat menjadi sasaran tindakan rasialis dari penonton.
Cara mereka merespons tindakan penonton pun mengagumkan.
Eto’o, misalnya, pernah mengatakan, “Saya adalah orang yang berkulit hitam dan jika seseorang membayar tiket cuma untuk mengejek saya seperti monyet, maka saya akan bertindak seperti monyet.”
Patrich Wanggai, korban rasialisme oknum warganet setelah laga PSM vs Persija, juga bersikap profesional dan menanggapi tindakan rasialis itu dengan tegar.
Ia kemudian mendapat banyak dukungan dari warganet lainnya.
Kita, orang-orang waras, memang harus terus melawan rasialisme. (*)