Breaking News:

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Laki-Laki Bermata Tajam

Aku membayangkan makamku kelak. Terpencil di kebun bambu, tak ada seorang pun yang berziarah, tidak keluargaku sekalipun.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen 

Kulemparkan pandangan ke luar jendela, pohon-pohon seolah berlarian. Sesekali aku membuka masker hanya untuk mengisi udara karena telah membuatku sesak. Kuperhatikan dia masih menatapku. Lutut kami bertemu dan aku semakin bergetar.

Aku mencoba mengingat masa lalu, barangkali ciri-ciri fisiknya pernah mengisi kehidupanku di waktu-waktu lampau. Tapi, aku benar-benar lupa. Yang kuingat kali ini hanyalah dosa, hampir di segenap kelokan ingatanku. Semua dosa terpampang bagaikan bertumpuk-tumpuk kotoran, bau dan menjijikkan. Ya, Tuhan, tak adakah tempat bagi hamba pendosa ini untuk sedikit tenang?

"Tampaknya kau mulai mengenaliku!" katanya, kali ini lebih mengejutkan. Aku mengenalinya, siapa?

"Aku yang setiap waktu kau sesali." Teka-teki apa lagi yang coba ia lemparkan? Sampai detik ini aku belum terhubung dengan apa yang ia pertanyakan. Entah jika saja ia membuka maskernya.

Aku tak menjawabnya dan pura-pura sibuk sendiri. Wa Ujan yang duduk di samping Pak Sopir mulai menggeliat. Beberapa penumpang mulai terbangun.

"Bau apa ini?" Seseorang tiba-tiba bertanya. Bau apa? Aku tak menghirup bau apa pun.

"Baunya kentara dan sangat tidak enak, seperti bau bangkai," kata penumpang lain. Sungguh aku tak merasakan bau apa-apa. Ada apa dengan penciumanku?

"Bau busuk, ya betul, bau busuk seperti bangkai." Semua orang memandangku kini, termasuk laki-laki tegap di hadapanku. Aku berusaha mengendus badanku sendiri. Semua terasa biasa saja. Penciumanku termasuk tajam, tetapi kali ini aku tak bisa menghirup aroma apa pun. Aku menatap balik kepada semua orang, mereka mulai terbatuk-batuk dan mengeluarkan sumpah serapah.

"Pak Sopir, berhenti!" teriak salah seorang penumpang.

"Sepertinya perempuan ini harus turun di sini. Bau busuk dan tak enak itu berasal dari perempuan ini," tuding seseorang. Aku gemetar. Laki-laki bermata tajam itu sepertinya tengah menertawakanku. Aku segera menatap Wa Ujan, meminta pertolongan dengan sorot mataku.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved