Cerita Pendek
Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Laki-Laki Bermata Tajam
Aku membayangkan makamku kelak. Terpencil di kebun bambu, tak ada seorang pun yang berziarah, tidak keluargaku sekalipun.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
"Benarkah kau tak mengenaliku?" tanyanya lagi. Aku ingin berteriak. Tapi, aku enggan membuat gaduh seisi mobil. Aku tak berhak mengadili laki-laki itu hanya karena memiliki sorot mata yang begitu tajam. Pertanyaannya tentu tidak dalam ranah melakukan kejahatan. Pertanyaan-pertanyaannya barangkali hanya basa-basi untuk mengawali sebuah perkenalan. Aku mungkin yang terlampau khawatir dan memasukkannya ke sinyal 70 kali malaikat maut mengintai.
"Baiklah kalau begitu. Aku tak akan mengganggumu lagi. Sampai kamu mengenali siapa aku," katanya. Aku bernapas lega. Tapi, mata itu tak lekang menatap. Kucoba terpejam seperti penumpang lain, tapi usahaku gagal. Laki-laki itu telah memenuhi seluruh ruang ingatan. Detak jantungku kian cepat, seperti tengah dikejar bayang-bayang hitam menakutkan.
Seharusnya perjalanan kali ini kunikmati karena suguhan pemandangan di balik kaca sangat menyejukkan mata. Setiap kelokan memberikan sensasi yang seharusnya bisa kurasakan. Tapi, semua hancur gara-gara tatapan itu. Meski dia sekarang tak bertanya lagi, matanya masih saja menelanjangiku.
Kucoba mengingat kembali di mana sepasang mata itu pernah kutemui. Atau barangkali aku bisa mengenali siapa pemiliknya. Tapi, lagi-lagi aku tak mampu mengingat. Mungkin karena begitu banyak laki-laki yang pernah singgah di kehidupanku hingga aku tak bisa lagi mengenalinya satu per satu.
"Jangan terlalu memaksa, biar saja kau mengingat dengan sendirinya. Kamu pasti akan ingat karena aku bagian dari masa lalumu," katanya lagi. Aku menghela napas berat dan kembali menyapu semua penumpang dalam mobil. Anehnya, semua tertidur nyenyak. Mungkin jika mereka bangun, mereka akan jelas mendengar percakapan kami.
Kulemparkan pandangan ke luar jendela, pohon-pohon seolah berlarian. Sesekali aku membuka masker hanya untuk mengisi udara karena telah membuatku sesak. Kuperhatikan dia masih menatapku. Lutut kami bertemu dan aku semakin bergetar.
Aku mencoba mengingat masa lalu, barangkali ciri-ciri fisiknya pernah mengisi kehidupanku di waktu-waktu lampau. Tapi, aku benar-benar lupa. Yang kuingat kali ini hanyalah dosa, hampir di segenap kelokan ingatanku. Semua dosa terpampang bagaikan bertumpuk-tumpuk kotoran, bau dan menjijikkan. Ya, Tuhan, tak adakah tempat bagi hamba pendosa ini untuk sedikit tenang?
"Tampaknya kau mulai mengenaliku!" katanya, kali ini lebih mengejutkan. Aku mengenalinya, siapa?
"Aku yang setiap waktu kau sesali." Teka-teki apa lagi yang coba ia lemparkan? Sampai detik ini aku belum terhubung dengan apa yang ia pertanyakan. Entah jika saja ia membuka maskernya.
Aku tak menjawabnya dan pura-pura sibuk sendiri. Wa Ujan yang duduk di samping Pak Sopir mulai menggeliat. Beberapa penumpang mulai terbangun.
"Bau apa ini?" Seseorang tiba-tiba bertanya. Bau apa? Aku tak menghirup bau apa pun.
"Baunya kentara dan sangat tidak enak, seperti bau bangkai," kata penumpang lain. Sungguh aku tak merasakan bau apa-apa. Ada apa dengan penciumanku?
"Bau busuk, ya betul, bau busuk seperti bangkai." Semua orang memandangku kini, termasuk laki-laki tegap di hadapanku. Aku berusaha mengendus badanku sendiri. Semua terasa biasa saja. Penciumanku termasuk tajam, tetapi kali ini aku tak bisa menghirup aroma apa pun. Aku menatap balik kepada semua orang, mereka mulai terbatuk-batuk dan mengeluarkan sumpah serapah.
"Pak Sopir, berhenti!" teriak salah seorang penumpang.
"Sepertinya perempuan ini harus turun di sini. Bau busuk dan tak enak itu berasal dari perempuan ini," tuding seseorang. Aku gemetar. Laki-laki bermata tajam itu sepertinya tengah menertawakanku. Aku segera menatap Wa Ujan, meminta pertolongan dengan sorot mataku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/belum-ada-judul.jpg)