Breaking News:

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Laki-Laki Bermata Tajam

Aku membayangkan makamku kelak. Terpencil di kebun bambu, tak ada seorang pun yang berziarah, tidak keluargaku sekalipun.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen 

Laki-laki itu seolah tak menangkap perasaan gusar yang tengah melandaku. Ia masih terus menatap, menembus hingga jauh ke dalam jiwa, melekat di sekujur tubuhku. Pandanganku menyapu penumpang lain yang tengah terlelap. Perjalanan masih sangat jauh.

Jika saja ada yang menawarkan sebuah pertolongan, tentu hal pertama yang ingin kudapatkan adalah jauhkan mata yang menghunjam itu dari tubuhku. Aku benar-benar menggigil. Rasa takut menyergap, dan mulutku bertubi-tubi merapal nama Tuhan.

"Kau tahu siapa aku?" tanyanya tiba-tiba. Mengagetkan. Aku balik menatapnya dengan tajam dan menyelidik. Barangkali mata itu kukenal. Siapakah dia? Bagaimana aku bisa memastikan, bibirnya tersembunyi di balik masker dan perkataannya terlalu cepat. Aku tak terlalu yakin suara itu berasal dari mana. Tapi, kemudian, meski ragu, aku menggeleng.

"Kau pasti sangat mengenalku!" katanya lagi. Sekarang aku yakin suara itu memang berasal darinya. Matanya lebih berbicara dari bibir yang tersembunyi. Aku menggeleng lagi setengah putus asa.

Ya, ampun siapa laki-laki ini? Ia melemparkan teka-teki di tengah suasana yang serba tak mengenakan. Masker sialan itu telah membuatnya sukses bersembunyi. Tapi, tidak matanya yang tajam. Mata yang lebih menakutkan dari virus yang kini tengah merebak, berhasil melempar manusia ke bilik-bilik sunyi, hanya mampu menghitung waktu dan nyawa hilang secara bergantian.

"Benarkah kau tak mengenaliku?" tanyanya lagi. Aku ingin berteriak. Tapi, aku enggan membuat gaduh seisi mobil. Aku tak berhak mengadili laki-laki itu hanya karena memiliki sorot mata yang begitu tajam. Pertanyaannya tentu tidak dalam ranah melakukan kejahatan. Pertanyaan-pertanyaannya barangkali hanya basa-basi untuk mengawali sebuah perkenalan. Aku mungkin yang terlampau khawatir dan memasukkannya ke sinyal 70 kali malaikat maut mengintai.

"Baiklah kalau begitu. Aku tak akan mengganggumu lagi. Sampai kamu mengenali siapa aku," katanya. Aku bernapas lega. Tapi, mata itu tak lekang menatap. Kucoba terpejam seperti penumpang lain, tapi usahaku gagal. Laki-laki itu telah memenuhi seluruh ruang ingatan. Detak jantungku kian cepat, seperti tengah dikejar bayang-bayang hitam menakutkan.

Seharusnya perjalanan kali ini kunikmati karena suguhan pemandangan di balik kaca sangat menyejukkan mata. Setiap kelokan memberikan sensasi yang seharusnya bisa kurasakan. Tapi, semua hancur gara-gara tatapan itu. Meski dia sekarang tak bertanya lagi, matanya masih saja menelanjangiku.

Kucoba mengingat kembali di mana sepasang mata itu pernah kutemui. Atau barangkali aku bisa mengenali siapa pemiliknya. Tapi, lagi-lagi aku tak mampu mengingat. Mungkin karena begitu banyak laki-laki yang pernah singgah di kehidupanku hingga aku tak bisa lagi mengenalinya satu per satu.

"Jangan terlalu memaksa, biar saja kau mengingat dengan sendirinya. Kamu pasti akan ingat karena aku bagian dari masa lalumu," katanya lagi. Aku menghela napas berat dan kembali menyapu semua penumpang dalam mobil. Anehnya, semua tertidur nyenyak. Mungkin jika mereka bangun, mereka akan jelas mendengar percakapan kami.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved