Breaking News:

Cerpen

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Guarjja yang Membawa Kesedihan

Kisahnya seperti telah menyihir kita dalam kesedihan. Dan kesedihan itu seperti semakin menjadi-jadi saat ia benar-benar datang kemari.

ILustrasi Cerpen 

Cerpen Yudhi Herwibowo

Jangan biarkan Guarjja datang kemari!

Bila kalian melihatnya dari jauh, halangi dia! Tunjukkan jalan yang lain! Bila ia tetap berkeras melewati desa kita, memohonlah agar ia tak singgah!

Jangan tanya kenapa! Kalian tahu apa alasannya. Kita bahkan telah tahu kisahnya jauh sebelum ia ke sini! Kisahnya seperti telah menyihir kita dalam kesedihan. Dan kesedihan itu seperti semakin menjadi-jadi saat ia benar-benar datang kemari.

Ya, aku masih ingat, dulu, hampir 20 tahun yang lalu, ia datang pertama kalinya ke sini. Ia masih tampak muda. Namun langkahnya lambat bagai laki-laki tua. Matanya pun tampak sayu dan seperti tak henti mencari-cari sesuatu. Ia tak bicara sepanjang jalan. Namun ada kalanya, ia akan bertanya kepada orang terakhir yang dilihatnya di ujung desa. “Apa kau melihat seseorang yang tampak seperti diriku datang kemari?” Suaranya terlalu pelan, seperti bisikan angin. Tapi siapa pun yang telah mendengar kisahnya akan membuat pertanyaan itu begitu mudah memanggil kesedihan.

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Melukis Langit

Baca juga: Cerpen Minggu Ini: Lelaki yang Teperdaya Sepi

Aku pernah ada dalam posisi di mana pertanyaan itu terlontar. Dan aku—walau sangat benci menangis karena membuatku terlihat lemah—seperti tak bisa berbuat apa-apa. Aku benar-benar menjadi seperti orang-orang lainnya, yang telah larut dengan kisahnya.

Ya, masih kuingat jelas kisahnya.

Di hari kelahirannya, burung hantu tiba-tiba bersenandung dengan suara yang tak dikenali. Anjing hutan pun tiba-tiba datang dan mengelilingi rumah. Mereka mengeluarkan suara-suara seperti sebuah tangisan panjang.

Dukun bayi yang baru mengeluarkan orok dari selangkangan itu mengangkatnya dengan wajah tak percaya. Ya, semua yang ada di ruangan itu juga seketika tak percaya. Bayi yang masih berselimut darah itu seharusnya merupakan bayi kembar, tapi sebagian tubuh keduanya saling menempel satu sama lainnya.

Dukun bayi, yang belum pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya, hanya bisa berkata, “Ini bayi yang sehat. Jangan pernah memisahkan keduanya!”

Ilustrasi Cerpen Apa yang Kaulupakan Hari Ini
Ilustrasi Cerpen Apa yang Kaulupakan Hari Ini (Tribun Jabar)
Halaman
1234
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved