Cerpen

Cerpen Minggu Ini: Lelaki yang Teperdaya Sepi

Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. Penuh debar saat mendekati si gadis. Waswas dengan dirinya sendiri.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen 

Lelaki yang Teperdaya Sepi

Cerpen Adi Zamzam

“Kau sudah siap?” tanyanya tanpa menoleh wajah.

“Kupasrahkan semuanya kepadamu, Tuan,” ujar suara lembut yang tak jauh darinya.

Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. Penuh debar saat mendekati si gadis. Waswas dengan dirinya sendiri. Khawatir dengan sesuatu yang bisa merebut segala kesadarannya.

**

Burung-burung camar begitu riuh tatkala ia mulai menyusuri pantai kotor nan berbau amis. Mereka seperti tengah bersorak-sorak, coba membangunkan si liar dalam dirinya. Sesekali riuh itu juga terdengar seperti ejekan atas kebodohannya menyia-nyiakan kesempatan.

Perlahan ia menyusuri pantai itu. Melaksanakan sebuah ritual membersihkan bau amis yang menguar dari segala penjuru. Ia fokuskan sepenuh diri. Tugasnya hanyalah membersihkan pantai. Tak boleh lebih.

“Saya berjanji akan sedia memenuhi segala kehendak Tuan jika Tuan berhasil menghilangkan bau amis di sekujur saya,” tiba-tiba suara lembut itu memenuhi lelangit yang beranjak magrib. Lalu bersambung dengan riuh camar yang bersahut-sahutan.

Ia coba tak memedulikan debar yang mulai terbangun. Ia masih tetap fokus melaksanakan ritual. Meski kedua matanya tak bisa bohong tentang keindahan sepanjang pantai yang begitu memesona.

Ada merah membara yang membias ke mana-mana. Ia mulai merasa ada yang mengintai di sebalik merah itu. Ketika cahaya di luar perlahan tenggelam, sebuah mata besar seolah beranjak memejam. Seolah semesta mulai membiarkannya melakukan segala sesuatu sekehendak hati.

Dan, ia terus menyusuri pantai itu. Menyisir lekuk demi lekuk. Sampai tak sadar bahwa ia sebenarnya amat menikmati ritual perjalanan itu. Pun ketika ia melihat sebuah perahu yang seolah tengah menunggu untuk menuju lautan lepas.

“Semua ini sudah takdir saya, Tuan,” suara lembut itu kembali bergema di lelangit jingga.

Takdir?

Ingatan pemuda itu pun berjalan ke masa silam. Betapa sebenarnya ia tak sepenuhnya menginginkan perjalanan ini di awal mula. Batara Gurulah yang mula-mula memancingnya untuk meninggalkan sepi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved