Breaking News:

Cerpen

Cerpen Minggu Ini: Lelaki yang Teperdaya Sepi

Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. Penuh debar saat mendekati si gadis. Waswas dengan dirinya sendiri.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen 

Ada merah membara yang membias ke mana-mana. Ia mulai merasa ada yang mengintai di sebalik merah itu. Ketika cahaya di luar perlahan tenggelam, sebuah mata besar seolah beranjak memejam. Seolah semesta mulai membiarkannya melakukan segala sesuatu sekehendak hati.

Dan, ia terus menyusuri pantai itu. Menyisir lekuk demi lekuk. Sampai tak sadar bahwa ia sebenarnya amat menikmati ritual perjalanan itu. Pun ketika ia melihat sebuah perahu yang seolah tengah menunggu untuk menuju lautan lepas.

“Semua ini sudah takdir saya, Tuan,” suara lembut itu kembali bergema di lelangit jingga.

Takdir?

Ingatan pemuda itu pun berjalan ke masa silam. Betapa sebenarnya ia tak sepenuhnya menginginkan perjalanan ini di awal mula. Batara Gurulah yang mula-mula memancingnya untuk meninggalkan sepi.

Kemarin ia adalah seorang pemuda yang amat menyukai semadi. Menit demi menit hanya ia habiskan untuk menyucikan hati, jauh dari riuh kehidupan duniawi. Saking gemarnya bersemadi, sampai rambutnya yang tak terurus dijadikan sarang sepasang pipit yang tengah mabuk asmara.

Namun suatu hari persemadian pemuda itu harus terputus oleh riuh telur-telur pipit yang menetas di atas kepalanya. Ternyata mereka telah ditinggal pergi oleh sang induk. Mau tak mau ia pun mengejar dua induk pipit yang tak bertanggung jawab itu.

Dari sinilah ia mulai merasakan permainan takdir. Tiap kali hampir berhasil menangkap, pasangan pipit itu justru terbang menjauh dan semakin menjauh, seolah mereka sengaja memancing agar ia melupakan persemadiannya. Hingga timbullah letupan amarah dalam dada. Ia mengambil busur dan lalu membidik dua makhluk mungil itu!

Andai dua makhluk mungil itu mati oleh anak panahnya, mungkin ia akan menyesali kemarahannya tadi seumur hidup. Serasa tiadalah guna lagi kesabaran yang ia gembleng selama berbilang tahun. Seperti sebuah siasat yang terencana rapi, induk pipit itu tiba-tiba saja menjelma Batara Guru.

Sesepuh para dewa itu mewejanginya panjang lebar soal kebijaksanaan hidup. Berhari-hari ia menimbang-nimbang wejangan yang sekaligus sindiran itu. Benarkah tindakannya selama ini hanya didorong kesenangan pribadi belaka?

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved