Breaking News:

Cerpen

Wanita Tanpa Nama

Yang lebih menyebalkan, si Wajah Bulat itu sangat bau. Aroma tak sedapnya dapat terhidu dari jarak yang cukup jauh. Bahkan sangat jauh.

Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen 

Dapat kulihat dengan jelas, wanita muda itu teramat ayu untuk menjadi anaknya, atau teramat muda jika menjadi saudaranya. Kemeja merah dengan celana kulot hitam membalut kulitnya yang putih. Jauh berbeda dengan si Wajah Bulat yang tak pernah ganti baju dengan kulit legamnya. Hidung wanita muda itu mancung. sementara hidup si Wajah Bulat, pesek. Bibirnya merona dengan dagunya yang belah delima. Rambut ikal mayang terikat tinggi, menambah anggun penampilannya. Sesaat aku terkesima menatapnya, dan hampir lupa pada tujuanku semula—mencuri dengar pembicaraan mereka.

"Pakailah! Nanti kau kedinginan. Cuaca sekarang sedang tak menentu," ujar si wanita muda tanpa rasa takut. Disodorkannya syal berikut sebuah buku. Sesaat si Wajah Bulat bergeming. Tak menoleh, apalagi menatap wanita muda. Jari gemuknya mencengkeram kucingnya dengan kuat.

Aku terpana dibuatnya. “Untuk apa wanita itu diberi buku? Bukankah dia tak pernah terlihat membaca atau memegang sebuah buku?” batinku.

"Wanita itu datang lagi!" bisik sebuah suara secara tiba-tiba dan mengejutkanku. Seketika aku menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata Meti. Wanita muda penghuni yayasan yang dulunya pernah menjadi model itu sudah berdiri di sampingku. Baju setelan berwarna cokelat dengan syal hitam yang melingkar di lehernya, terlihat indah dipandang, kecuali wajah ketusnya.

"Siapa?" tanyaku penasaran. Wajah Meti berubah gusar. Ditatapnya aku lekat, aku pun balik menatapnya penuh harapan. Satu jarinya menyentuh bibir tipisnya, mengisyaratkan agar aku diam. Tak lama kemudian dia pun berlalu dari sampingku. Berjalan pelan lalu hilang di balik dinding. Tinggal aku yang semakin penasaran, diliputi berbagai macam pertanyaan. "Siapa wanita muda itu? Mengapa dia berani menemui si Wajah Bulat?”

Pikiranku terlalu sibuk dengan keingintahuan hingga, tanpa kusadari, wanita muda dan si Wajah Bulat sudah tak ada di tempatnya. Kursi rotan itu kosong, pun bantal buruk ikut raib. "Sejak kapan mereka pergi dari sana?" gumamku.

Hingga berhari lamanya, bahkan berminggu dan bulan, si Wajah Bulat tak kembali ke tempatnya. Seharusnya aku senang karena si Wajah Bulat sudah pergi meninggalkan kursi rotannya. Seharusnya kursi itu aku ambil tanpa harus takut kepada si Wajah Bulat. Seharusnya memang begitu, tetapi aku sudah tidak ingin mengetahui kursi rotan itu lagi.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved