Cerpen
Wanita Tanpa Nama
Yang lebih menyebalkan, si Wajah Bulat itu sangat bau. Aroma tak sedapnya dapat terhidu dari jarak yang cukup jauh. Bahkan sangat jauh.
Editor:
Hermawan Aksan
Pikiranku terlalu sibuk dengan keingintahuan hingga, tanpa kusadari, wanita muda dan si Wajah Bulat sudah tak ada di tempatnya. Kursi rotan itu kosong, pun bantal buruk ikut raib. "Sejak kapan mereka pergi dari sana?" gumamku.
Hingga berhari lamanya, bahkan berminggu dan bulan, si Wajah Bulat tak kembali ke tempatnya. Seharusnya aku senang karena si Wajah Bulat sudah pergi meninggalkan kursi rotannya. Seharusnya kursi itu aku ambil tanpa harus takut kepada si Wajah Bulat. Seharusnya memang begitu, tetapi aku sudah tidak ingin mengetahui kursi rotan itu lagi.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/apa-yang-kaulupakan-hari-ini.jpg)