Breaking News:

Cerpen

Wanita Tanpa Nama

Yang lebih menyebalkan, si Wajah Bulat itu sangat bau. Aroma tak sedapnya dapat terhidu dari jarak yang cukup jauh. Bahkan sangat jauh.

Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen 

Cerpen Chie Setiawati

Seperti biasa, wanita berwajah bulat itu akan duduk berlama-lama di kursi rotannya. Mata sayunya menatap kosong, menembus pagar besi di hadapannya. Rambut ikalnya seolah berat untuk dikibaskan, bahkan oleh angin sekalipun. Entah apa yang ada di benaknya, entah sedang berpikir apa. Entah memang sedang tidak memikirkan apa-apa. Kosong. Mungkin.

Tak ada orang yang memanggil namanya. Karena tak ada seorang pun yang ingin mendekatinya. Wajah bulatnya selalu berubah garang setiap kali ada yang mencoba mendekat. Wanita itu, si Wajah Bulat, aku namai, tidak pernah bicara. Entah malas bicara, entah memang tak dapat bicara. Betul-betul tak ada seorang pun yang mengajaknya bicara, atau bercerita.

Yang lebih menyebalkan, si Wajah Bulat itu sangat bau. Aroma tak sedapnya dapat terhidu dari jarak yang cukup jauh. Bahkan sangat jauh. Dia berada di ujung koridor sana, dan aku di ujung sebelah sini. Embusan angin membawa bau tubuhnya ke penciumanku. Membuat kuduk meremang menahan mual.

Baca juga: Cerita Makhluk Berkepala Anjing dan Ular Raksasa di Danau Ini, Turut Melestarikan Mata Air dan Hutan

Sepertinya si Wajah Bulat itu tak pernah mandi. Lihat saja, dia berada di sana sepanjang hari, sepanjang malam. Bisa jadi, dia memang telah pindah tempat tinggalnya di sana. Di ujung koridor, tempat yang seharusnya untuk menikmati pagi atau senja dengan segelas kopi, sembari menatap anak-anak awan yang berlarian, mendengarkan kicau burung yang bersahutan, atau sekedar duduk merenung. Akan tetapi, si Wajah Bulat telah menjadikannya tempat tinggal. Bertemankan sebuah kursi rotan dan seekor kucing kurus yang kumal.

Sempat aku berpikir untuk mencuri kursinya. Lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di kebun belakang. Agar dia tak lagi tinggal di sana. Suatu hari aku mendekat ke arah wanita itu. Hanya ingin melihat, seperti apa rupa kursi itu? Apakah itu kursi rotan dengan sandaran yang helaian rotannya sudah banyak yang tanggal, dengan bantal buruk sebagai alas duduknya? Seperti kursi tua yang sering diduduki ibu mertuaku.

Saat itu, si Wajah Bulat sedang pergi, mungkin ke kamar mandi. Dengan cepat aku berjalan ke arah kursi rotan reotnya. Akan tetapi, sebelum langkahku sampai ke sana, wanita aneh itu sudah kembali ke kursinya. Akhirnya aku hanya mematung, menatapnya dari kejauhan. Berharap, si Wajah Bulat akan meninggalkan kursi itu dalam jangka waktu yang lama. Agar aku bisa leluasa memeriksa kursi rotan itu, lalu membuangnya. Aku benar-benar terusik oleh bau tubuhnya. Namun rencanaku itu belum juga terlaksana.

Terkadang, wanita itu mendelik ke arahku. Mata bulatnya akan berubah merah menyala. Sorotnya tajam. Menakutkan. Mata itu serupa mata ibu mertuaku. Wanita gempal, yang kupanggil Akim, juga mempunyai mata tajam seperti wanita yang duduk di sana. Dia tidak banyak bicara, tapi sorot matanya sangat tajam. Melihat dengan ekor matanya saja sudah sangat menusuk, bagaimana jika dia menatap bulat-bulat? Matanya seakan penuh kecurigaan dan prasangka yang sangat menyakitkan. Mungkin lebih tajam daripada ucapannya.

Gilanya lagi, wanita itu selalu meludah seenaknya tanpa melihat tempat. Suatu hari, dia melemparkan tisu bekas ke arahku hingga mendarat dengan sempurna ke pangkuanku. Tisu itu begitu bau dan kotor. Entah bekas apa. Dengan geram kulemparkan balik ke arahnya. Mata bulatnya melotot dan merah. Tanpa bicara dia menghampiriku lalu meludah. Air liurnya mengenai ujung sepatu yang baru kubeli. Seketika aku memekik, mundur selangkah ke belakang, tapi terlambat. Ludah itu sudah mengotori sepatuku. Rasanya aku ingin menjambak rambut kusutnya, tapi dia garang. Matanya lebih tajam daripada pisau.

Akhirnya, aku hanya mampu menatapnya dengan pandangan tak menentu. Membiarkannya bukan berarti aku tak berani. Aku hanya menunggu waktu untuk membalasnya. Menunggu dia lengah. Suatu hari pasti dia akan lengah atau tertidur. Lihat saja nanti. Perasaanku mengatakannya, suatu hari si Wajah Bulat akan pergi dalam waktu yang lama.

Baca juga: Sule Emosi Putri Delina Terus-terusan Disinggung Teddy Soal Harta Gono-gini: Kalau Berani Ayo Ketemu

Aku pernah melihat dia terlelap dengan kedua lengan terkulai ke bawah dan tubuh bersandar, tampak begitu lelah. Sayangnya, saat itu aku sedang tak ingin melakukan apa-apa. Aku sedang ingin bersandar sembari menikmati semilir angin yang berembus dari rimbun pohon mangga. Usapan angin membuat aku enggan bergerak sehingga kubiarkan saja si Wajah Bulat tertidur dalam waktu yang cukup lama. Hingga matahari dan dengkuran kucing membangunkan lelapnya. Dia tergagap sendiri, lalu meneruskan kegiatannya, yaitu membuang kutu-kutu dari tubuh kucing kesayangannya.

Pagi itu, seorang wanita muda menghampirinya. Mungkin anaknya. Mungkin juga saudaranya. Wanita muda itu tak ragu-ragu menghampirinya sembari memberikan sehelai syal berwarna cokelat. Melihat wanita muda itu mendekati si Wajah Bulat, aku ingin tahu apa yang akan terjadi. Aku mengendap, mencuri dengar dari tempat yang kurasakan aman.

Dapat kulihat dengan jelas, wanita muda itu teramat ayu untuk menjadi anaknya, atau teramat muda jika menjadi saudaranya. Kemeja merah dengan celana kulot hitam membalut kulitnya yang putih. Jauh berbeda dengan si Wajah Bulat yang tak pernah ganti baju dengan kulit legamnya. Hidung wanita muda itu mancung. sementara hidup si Wajah Bulat, pesek. Bibirnya merona dengan dagunya yang belah delima. Rambut ikal mayang terikat tinggi, menambah anggun penampilannya. Sesaat aku terkesima menatapnya, dan hampir lupa pada tujuanku semula—mencuri dengar pembicaraan mereka.

"Pakailah! Nanti kau kedinginan. Cuaca sekarang sedang tak menentu," ujar si wanita muda tanpa rasa takut. Disodorkannya syal berikut sebuah buku. Sesaat si Wajah Bulat bergeming. Tak menoleh, apalagi menatap wanita muda. Jari gemuknya mencengkeram kucingnya dengan kuat.

Aku terpana dibuatnya. “Untuk apa wanita itu diberi buku? Bukankah dia tak pernah terlihat membaca atau memegang sebuah buku?” batinku.

"Wanita itu datang lagi!" bisik sebuah suara secara tiba-tiba dan mengejutkanku. Seketika aku menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata Meti. Wanita muda penghuni yayasan yang dulunya pernah menjadi model itu sudah berdiri di sampingku. Baju setelan berwarna cokelat dengan syal hitam yang melingkar di lehernya, terlihat indah dipandang, kecuali wajah ketusnya.

"Siapa?" tanyaku penasaran. Wajah Meti berubah gusar. Ditatapnya aku lekat, aku pun balik menatapnya penuh harapan. Satu jarinya menyentuh bibir tipisnya, mengisyaratkan agar aku diam. Tak lama kemudian dia pun berlalu dari sampingku. Berjalan pelan lalu hilang di balik dinding. Tinggal aku yang semakin penasaran, diliputi berbagai macam pertanyaan. "Siapa wanita muda itu? Mengapa dia berani menemui si Wajah Bulat?”

Pikiranku terlalu sibuk dengan keingintahuan hingga, tanpa kusadari, wanita muda dan si Wajah Bulat sudah tak ada di tempatnya. Kursi rotan itu kosong, pun bantal buruk ikut raib. "Sejak kapan mereka pergi dari sana?" gumamku.

Hingga berhari lamanya, bahkan berminggu dan bulan, si Wajah Bulat tak kembali ke tempatnya. Seharusnya aku senang karena si Wajah Bulat sudah pergi meninggalkan kursi rotannya. Seharusnya kursi itu aku ambil tanpa harus takut kepada si Wajah Bulat. Seharusnya memang begitu, tetapi aku sudah tidak ingin mengetahui kursi rotan itu lagi.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved