Cerpen

Mulut Mulut Mangap-Mangap

Mulut-mulut tertempel di dindingmu. Berbagai ukuran, berbagai bentuk, berbagai corak. Ada yang cokelat, ada yang hitam, ada yang bergincu

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen Kumis Raisa 

Cerpen Hendra Purnama

Mulut-mulut tertempel di dindingmu. Berbagai ukuran, berbagai bentuk, berbagai corak. Ada yang cokelat, ada yang hitam, ada yang bergincu, ada yang berwarna, ada yang pucat. Mereka mangap-mangap tak bersuara.

Kau memandang itu semua sambil bersandar di sebuah sofa cokelat tua. Menikmati. Melihat mulut-mulut menempel di dinding, mangap-mangap seperti kehausan mencari air segar. Tapi mereka tentu saja tak bisa minum karena mereka hanya mulut tanpa tenggorokan.

Awalnya hanya satu mulut yang datang ke rumahmu, dalam paket berbungkus bagus tanpa nama pengirim. Kau membuka bungkusan itu dan terpesona pada mulut yang kaulihat. Lalu kau memajangnya seperti sebuah trofi di meja kerjamu. Kauatur hingga mulut itu menghadap ke arahmu. Mangap-mangap. Kau memandangnya ketika bosan atau otakmu sedang buntu. Seringkali kau berusaha menebak apa yang mulut itu sedang ucapkan, kau menganggapnya permainan. Kau tersenyum ketika merasa bisa menebaknya. Sementara mulut itu tak peduli kau salah atau benar. Ia terus saja mangap-mangap setiap saat.

Lalu datang kiriman yang sama, mulut lagi. Kau kembali memasangnya di meja kerja, kauatur hingga kedua mulut itu berhadapan. Kini ada dua mulut mangap-mangap di depanmu, kadang di saat yang bersamaan, kadang tidak. Kau menganggapnya hiburan. Kau selalu berusaha menebak-nebak apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi seringkali kau gagal. Tak apa, kau terhibur juga dibuatnya. Sejak kedua mulut itu datang, hidupmu tak lagi sepi. Perlahan kau pun mulai merasa nyaman.

Tapi lalu datang kiriman mulut ketiga, disusul kiriman keempat, kelima, dan seterusnya. Isinya mulut semua, begitu banyak sampai tak mungkin semua kautaruh di meja kerja. Maka kau pun mulai memasangnya di dinding. Awalnya berjejer, kemudian bersusun dua, terus bertambah dan bertambah seiring kiriman datang. Sampai begitu banyak mulut, begitu banyak hingga kau tak bisa lagi menghitung berapa jumlahnya.

Kepada semua orang yang datang ke rumahmu dan kebetulan menanyakan perihal mulut-mulut itu, kau selalu berkata bahwa mulut-mulut itu datang dari seluruh dunia, mereka dikirim oleh orang yang tak kaukenal.

Seorang temanmu yang lain bertanya, apakah kau tidak takut menerima kiriman dari orang yang tak kaukenal? Kau menggeleng, selalu menggeleng, dan menjawab dengan jawaban yang sudah kauulang ratusan kali:

“Mengapa harus kutolak kalau ternyata barang-barang kiriman itu membuatku bahagia? Aku sering bermain-main bersama mereka. Aku sering tertawa dengan tingkah laku mereka. Aku terhibur oleh mulut-mulut itu.” Begitulah. Jawaban itu sudah kau hafal di luar kepala.

Di waktu lain, seorang temanmu yang terkenal pintar bertanya apakah kau tidak curiga pada mulut-mulut itu. “Bagaimana kalau ternyata mereka sebenarnya sedang berkonspirasi membicarakan kematianmu? Saat masih satu atau dua mulut bolehlah kau bisa terhibur, tapi ketika tembok rumahmu sudah penuh dengan mulut-mulut seperti ini, kau harus lebih waspada lagi!”

Kau agak tertegun mendengar hal itu. Lalu sepulangnya temanmu, kau mulai memperhatikan lagi mulut-mulut itu. Mereka mangap-mangap. Mangap-mangap. Terus mangap-mangap. Semua seperti bicara sesuatu. Lama-lama kau mulai memikirkan kemungkinan itu. Kau tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sedangkan kau juga tidak terlalu ahli membaca gerak bibir. Maka kau melakukan hal yang paling masuk akal, setidaknya buatmu.

Kau mulai menjahit satu per satu mulut-mulut itu. Jangan dikira itu mudah. Menjahit mulut-mulut yang selalu mangap-mangap itu seperti menangkap kucing. Susah-susah gampang. Ada yang susah, ada yang gampang. Ada mulut yang terus melawan dan berusaha menggigit tanganmu, ada pula mulut yang diam saja, seolah pasrah. Rupa-rupa.

Perlu waktu berminggu-minggu untuk menuntaskan pekerjaan itu. Namun, kerja kerasmu tidak sia-sia. Sekarang semua mulut di dinding rumahmu itu tak lagi mangap-mangap, mereka hanya kedut-kedut, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Sekarang kau selalu duduk di sofa memandangi mulut-mulut yang berkedut-kedut itu. Semuanya bergetar dalam kedutan masing-masing. Terkadang kau juga merasa lucu melihatnya.

Sampai kemudian temanmu yang pintar itu datang lagi dan menunjuk dinding, “Kenapa semuanya dijahit begitu?”

Kau merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, kau langsung mengatakan bahwa itulah cara terbaik untuk menutup mulut-mulut yang selalu mangap-mangap itu. Namun temanmu ternyata tidak setuju.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved