Breaking News:

Cerpen

Mulut Mulut Mangap-Mangap

Mulut-mulut tertempel di dindingmu. Berbagai ukuran, berbagai bentuk, berbagai corak. Ada yang cokelat, ada yang hitam, ada yang bergincu

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen Kumis Raisa 

Kau agak tertegun mendengar hal itu. Lalu sepulangnya temanmu, kau mulai memperhatikan lagi mulut-mulut itu. Mereka mangap-mangap. Mangap-mangap. Terus mangap-mangap. Semua seperti bicara sesuatu. Lama-lama kau mulai memikirkan kemungkinan itu. Kau tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sedangkan kau juga tidak terlalu ahli membaca gerak bibir. Maka kau melakukan hal yang paling masuk akal, setidaknya buatmu.

Kau mulai menjahit satu per satu mulut-mulut itu. Jangan dikira itu mudah. Menjahit mulut-mulut yang selalu mangap-mangap itu seperti menangkap kucing. Susah-susah gampang. Ada yang susah, ada yang gampang. Ada mulut yang terus melawan dan berusaha menggigit tanganmu, ada pula mulut yang diam saja, seolah pasrah. Rupa-rupa.

Perlu waktu berminggu-minggu untuk menuntaskan pekerjaan itu. Namun, kerja kerasmu tidak sia-sia. Sekarang semua mulut di dinding rumahmu itu tak lagi mangap-mangap, mereka hanya kedut-kedut, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Sekarang kau selalu duduk di sofa memandangi mulut-mulut yang berkedut-kedut itu. Semuanya bergetar dalam kedutan masing-masing. Terkadang kau juga merasa lucu melihatnya.

Sampai kemudian temanmu yang pintar itu datang lagi dan menunjuk dinding, “Kenapa semuanya dijahit begitu?”

Kau merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, kau langsung mengatakan bahwa itulah cara terbaik untuk menutup mulut-mulut yang selalu mangap-mangap itu. Namun temanmu ternyata tidak setuju.

“Tidak... tidak... aku memang memintamu waspada pada semua mulut yang mangap-mangap, tapi aku tidak menyuruhmu menjahit semuanya. Sebab bisa saja ada beberapa mulut yang bicara hal-hal berguna, atau hal yang kausukai. Bagaimana kau bisa menjahit mulut-mulut seperti itu?”

Kau terperangah. Hal itu tidak terpikirkan olehmu sama sekali. Tapi kau merasa tidak mungkin juga membuka lagi satu per satu jahitan yang sudah erat terpasang hanya untuk memilah mana celoteh yang berguna atau tidak. Itu adalah pengulangan kerja yang sia-sia.

“Tidak usah... tidak usah seperti itu,” ujar temanmu. “Kau mulai saja dari awal, mulai dari mulut yang baru. Bukankah kau pasti akan dapat kiriman lagi? Biarkan saja mulut-mulut yang sudah kadung terjahit, mungkin memang begini nasib mereka. Kau tidak usah ambil pusing. Nanti kau periksa saja mulut yang baru. Kalau ia tak berguna buatmu, baru kaujahit lagi. Tapi kalau berguna, kaupajang saja seperti biasa!”

Kau memandang temanmu yang pintar itu dan bertanya: Bagaimana caranya? Semua mulut hanya megap-megap tanpa suara seperti orang kehausan mencari air segar. Tidak ada bedanya.

Temanmu meradang, “Pasang kupingmu! Dengarkan suara mereka!”

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved