Breaking News:

Coffee Break

Provinsi Sunda

NAMA Sunda, baik sebagai negara (kerajaan) maupun (suku) bangsa, mengalami jatuh-bangun selama beratus tahun.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Provinsi Sunda
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

Oleh Hermawan Aksan

NAMA Sunda, baik sebagai negara (kerajaan) maupun (suku) bangsa, mengalami jatuh-bangun selama beratus tahun. Namun wilayahnya boleh dikatakan nyaris tidak pernah berkembang dari luas Provinsi Jawa Barat plus Provinsi Banten sekarang. Kalaupun pernah meliputi sebagian wilayah Jawa Tengah bagian barat sekarang, penambahan luas keseluruhan tidak terlalu signifikan karena di Tatar Sunda hampir selalu berdiri kerajaan lain selain Kerajaan Sunda.

Menurut literatur, sebelum tahun 1925, memang digunakan Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy, yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.

Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu merupakan pelaksanaan Bestuurshervormingwet (Undang-Undang Reformasi Administrasi) tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi.

Baca juga: Hoaks UU Ciptaker

Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Pada 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan, salah satu negara bagian Republik Indonesia Serikat, sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.

Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Tujuh puluh tahun kemudian, muncul usulan untuk mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda. Wacana ini muncul dari diskusi "Dialog Aspirasi Pengembalian Nama Provinsi Jawa Barat Menjadi Provinsi Sunda" yang diadakan di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin, 12 Oktober lalu.

Baca juga: Janda Bolong

(Saya mendadak bertanya-tanya. Andaikata masih hidup, apakah Ajip Rosidi, budayawan Sunda yang begitu mengindonesia, bahkan mendunia, yang menghabiskan tahun-tahun akhir hidupnya di Jawa Tengah, yang rutin memberikan penghargaan kepada para sastrawan suku lain, akan setuju dengan wacana itu?)

Dalam diskusi itu anggota DPD perwakilan Jabar, Eni Sumarni, menyinggung sejarah dalam wacana nama Provinsi Jawa Barat diganti Sunda. "Nama Sunda dari dulu ada di peta dunia. Saya khawatir bila nama ini tidak digunakan, Sunda bisa tergerus dan semakin menghilang. Kita dukung para tokoh Sunda yang ingin mengembalikan nama Sunda ke provinsi," kata Eni dalam diskusi itu.

Sebagai orang Sunda asal Jawa Tengah, yang kadang, ehm, tidak diakui sebagai Sunda oleh (sebagian) orang Jawa Barat, saya kadang bingung dengan wacana macam ini. Pertama, apakah hanya karena tidak ada di peta, Sunda bisa hilang? Apanya yang hilang? Manusianya akan tetap ada. Begitu juga bahasa dan budayanya, asal ada niat untuk memeliharanya. Kedua, wacana penggantian nama itu mengingatkan saya pada kebiasaan (sebagian) orang Sunda yang senang mengidentifikasikan diri sebagai keturunan Siliwangi: bangga dengan kejayaan masa silam.

Lagi pula, secara sederhana kita bisa melihat fakta yang sangat nyata: Jawa Barat tidaklah seratus persen Sunda. Ada Cirebon dan Indramayu dengan budaya dan bahasa yang terpengaruh Jawa. Ada pula Bekasi, Depok, dan Bogor, yang bahasa dan budayanya beririsan dengan Betawi. Tidakkah muncul kehawatiran, jika kita memaksa mengubah nama menjadi Provinsi Sunda, muncul pemberontakan dari wilayah-wilayah non-Sunda itu?

Saya setuju dengan pendapat Ketua Paguyuban Pasundan Kabupaten Kuningan, Rana Suparman, "Daripada mengubah nama Provinsi Jawa Barat yang telah lama digunakan lebih baik mengubah pola pikir masyarakat saat ini agar bisa sesuai dengan cara pandang khas Sunda, yaitu sifat keramahannya."

Ya, ayolah, masa lalu bukanlah sebagai tempat kembali. Sebaliknya, jadikan kejayaan masa lalu sebagai pijakan untuk meloncat meraih kejayaan di masa depan. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved