Breaking News:

Coffee Break

Hoaks UU Ciptaker

TADINYA saya pikir tingkat pendidikan menjadi variabel penting apakah seseorang mudah termakan—atau memakan—hoaks.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Hoaks UU Ciptaker
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Hermawan Aksan (Wartawan Tribun Jabar)

TADINYA saya pikir tingkat pendidikan menjadi variabel penting apakah seseorang mudah termakan—atau memakan—hoaks: makin tinggi tingkat pendidikan, makin sulit dia terpengaruh berita bohong. Namun, pengalaman di sebuah grup WhatsApp beberapa waktu lalu membuat saya berpikir ulang.

Selasa lalu, sebelum unjuk rasa di mana-mana, seseorang meneruskan postingan berisi "poin- poin RUU Cipta Kerja yang disorot buruh". Di bagian bawah kiri tertulis bahwa postingan itu bersumber dari KSPI, sedangkan di kanan bawah tercantum sumber beritanya dari merdeka.com. Sebagaimana umumnya postingan yang diteruskan, postingan ini pun boleh jadi sudah diteruskan dan menyebar ke mana-mana.

Salah satu poin di antara 17 poin itu menyebutkan "pekerja yang di-PHK karena memasuki usia pensiun tidak lagi mendapatkan pesangon."

Janda Bolong

Postingan itu pun segera direspons oleh seorang anggota grup seperti ini, "Edan gini. Terus kita yang bekerja sampai pensiun tidak akan dapat apa-apa, dong."

Tak lama, dia meneruskan postingan berjudul "Tragedi Tengah Malam Kembali Terjadi", yang berisi 13 poin yang disebut "menyengsarakan dan membunuh rakyat sendiri", antara lain 1. Uang pesangon dihilangkan 2. UMP, UMK, UMSP dihapus 3. Upah buruh dihitung per jam 4. Semua hak cuti (cuti sakit, cuti kawinan, khitanan atau cuti baptis, cuti kematian, cuti melahirkan) hilang dan tidak ada kompensasi. Postingan itu diakhiri dengan kalimat "Kalian yakin negara ini baik- baik saja?"

Setelah itu, muncul sejumlah tanggapan, yang intinya mereka memercayai isi postingan itu. Saya diam saja karena masih ada sejumlah pertanyaan di kepala saya: benarkah postingan itu bersumber dari KSPI? Tidakkah terbuka kemungkinan ada orang yang memanfaatkan nama KSPI demi kepentingannya? Dan tentu saja: benarkah isi poin-poinnya?

Selamat Jalan, Orang-orang Besar

Tak berapa lama kemudian, di sebuah grup WA lainnya yang saya ikuti ada postingan yang berjudul "Meluruskan 12 Hoax Omnibus Law RUU Cipta Kerja", yang saya teruskan ke grup WA pertama. Salah satu postingan ini berupa pertanyaan: benarkah uang pesangon akan dihilangkan? Dijawab bahwa faktanya uang pesangon tetap ada, lalu disebutkan bab, pasal, dan ayatnya. Poin lainnya antara lain mengenai benarkah UMP, UMK, UMSP dihapus dan benarkah semua hak cuti hilang dan tidak ada kompensasi. Singkatnya, semua poin itu dianggap hoaks.

Karena saya belum membaca UU Cipta Kerja, dan saya yakin banyak yang belum membaca, saya tidak yakin bahwa postingan yang saya teruskan itu seratus persen benar. Maksud saya tidak lebih bahwa kita hendaknya jangan langsung percaya terhadap sebuah postingan yang menyudutkan salah satu pihak. Lakukan cek silang supaya kita tidak ikut arus yang keliru.

Dari situ saya ingin mengatakan, jika beberapa teman yang berpendidikan tinggi dengan tradisi berpikir bebas pun bisa termakan hoaks, bagaimana dengan orang-orang kebanyakan yang rata- rata berpendidikan rendah? Nah, saya menduga hoaks ini, meski mungkin bukan faktor utama, menjadi faktor penting sehingga bisa terjadi unjuk rasa di berbagai tempat dan berakhir dengan perusakan fasilitas-fasilitas umum.

Seorang teman di kampung, guru di sebuah SLTA, menulis status di FB-nya: "Kalau UU itu baik dan untuk rakyat, kenapa mereka menolaknya di mana-mana? Termakan hoaks? Se-Indonesia termakan hoaks?" Dia mungkin hendak mengatakan bahwa dia tidak termakan hoaks, tapi statusnya menunjukkan bahwa dia justru termakan hoaks.

Saya kemudian menduga, variabel seseorang mudah termakan hoaks itu bukanlah tingkat pendidikan dan kecendekiaan, melainkan level kebencian. Kalau sudah tidak suka terhadap pihak tertentu, apa pun yang dilakukan pihak tertentu itu pasti dianggap salah.

Ini yang membuat saya sedih.

Untunglah, saya masih terhibur membaca status FB seorang teman, seorang ibu yang juga dosen ITB: "Untuk mahasiswa ITB yang mau demo UU Ciptaker. Sudah baca seluruh isi UU tersebut? Sudah paham isinya? Kalau sudah, silakan turun ke jalan dan demo, tapi kalau belum... turun dari tempat tidur dan hadir kuliah, karena sekian tahun lagi, negeri ini Anda yang pimpin, dan agar Anda tidak didemo mahasiswa. Tuhan memberkati."

Saya yakin, masih banyak orang yang berpikir waras. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved