Coffee Break

Janda Bolong

Ketika harga batu akik melejit, saya pernah mengaitkan melambungnya harga batu akik yang tak masuk akal itu dengan sebuah istilah monkey business.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

Oleh Hermawan Aksan

BEBERAPA tahun lalu, ketika harga batu akik melejit, saya pernah mengaitkan melambungnya harga batu akik yang tak masuk akal itu dengan sebuah istilah yang dikenal sebagai monkey business. Kalau Anda belum tahu istilah ini, silakan googling.

Tentu saja banyak teman saya, terutama para penggemar batu akik, baik yang memang sudah lama menjadi kolektor maupun yang mendadak menjadi penggemar berat, yang tidak percaya. Mereka menganggap naiknya harga batu akik merupakan hal yang wajar mengingat batu akik memiliki bahan dan keindahan yang tidak kalah dengan batu mulia. Batu akik, kata mereka, berbeda dengan tanaman gelombang cinta, misalnya, yang pernah dihargai secara fantastis tapi kemudian terjun bebas.

“Lihat saja, harga batu akik akan bertahan lama,” kata mereka.

Menulis dengan Cinta

Tak berapa lama kemudian, harga batu akik kembali merosot tajam hingga mencapai harga sebelum terjadi kenaikan.

Pada 2007 atau 2008, tanaman gelombang cinta, yang boleh jadi merupakan terjemahan dari bahasa Inggris wafe of love, salah satu jenis Anthurium, tiba-tiba muncul sebagai fenomena fantastis karena harganya yang di luar akal sehat. Bayangkan saja, tanaman jenis Anthurium jenmanii kobra terjual seharga Rp 250 juta, sedangkan jenis supernova menembus 1 miliar!

Orang-orang kemudian banyak yang mencari tanaman ini, membelinya semahal apa pun, dengan harapan bisa menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi. Mungkin banyak yang mengkhayal akan mendadak menjadi miliarder. Namun faktanya, hanya segelintir yang dapat meraih keuntungan berlipat, sedangkan sebagian besar lainnya terpaksa gigit jari sampai putus!

INNALILLAHI, Hj Aminah Pemilik Abuba Steak Meninggal Dunia, Pemakaman Pakai Protap Covid-19

Fenomena serupa pernah terjadi pada ikan louhan. Harga ikan ini sempat membubung mencapai jutaan per ekor, itu pun baru anaknya. Ikan louhan yang sudah dewasa tentu akan berlipat-lipat harganya.

Lalu kini muncul tanaman hias bernama janda bolong. Oh, ya, saya mengapresiasi orang yang pertama kali memberi nama tanaman ini. Berbeda dengan gelombang cinta yang terkesan romantis, janda bolong mengesankan semacam erotika. Tapi saya tidak akan membahas soal itu.

Dalam beberapa minggu belakangan, janda bolong atau Monstera adansonii tengah menjadi incaran masyarakat, terutama pehobi tanaman hias. Begitu ramai orang mengincarnya, tanaman ini dapat dihargai mencapai Rp 95 juta hingga Rp 100 juta. Hanya satu lembar daunnya pun konon bisa mencapai harga Rp 15 juta.

Mengapa bisa semahal itu? Apakah harga yang fantastis ini berkaitan dengan fenomena tanaman gelombang cinta dua belas tahun lalu?

Di sebuah laman disebutkan bahwa tanaman ini berasal dari Amerika. Namun, selain di negara-negara Amerika Selatan, tanaman ini juga dapat ditemukan di Hindia Barat, di pulau-pulau seperti Antigua, Grenada, Saba, St Kitts, Guadeloupe, Maire Galante, Dominika, Martinik, St Lucia, St Vincent, serta Trinidad dan Tobago.

Disebutkan pula bahwa tanaman ini memiliki pesona tersendiri dibandingkan tanaman hias lainnya. Harganya bisa fantastis karena tanaman ini memiliki warna menarik, yakni putih dan hijau dalam satu daun, dan daunnya unik karena berlubang-lubang secara alami.

Pertanyaannya, hanya karena itukah tanaman ini sampai berharga luar biasa?

Saya bukan penggemar berat tanaman. Namun di depan rumah, saya juga menanam sejumlah tanaman hias, termasuk bunga mawar, bugenvil, dan anturium—yang terakhir ini pemberian dari seorang tetangga. Dan saya lebih suka memandang bunga mawar yang sedang mekar daripada anturium.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved